Tren Slow Travel Meningkat, Bhutan Jadi Destinasi Liburan Penuh Ketenangan

Sabtu, 25 Apr 2026, 23:00 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Di tengah tekanan hidup dan padatnya aktivitas, tren slow travel hingga perjalanan untuk healing semakin diminati. Banyak wisatawan kini tidak lagi sekadar mengejar destinasi populer, tetapi mencari pengalaman yang menawarkan ketenangan, makna, serta koneksi dengan alam dan budaya.

Salah satu destinasi yang menjawab kebutuhan tersebut adalah Bhutan. Dikenal sebagai Negeri Naga Guntur, Bhutan menawarkan harmoni antara keindahan alam, kekayaan budaya, dan kedalaman spiritual, menjadikannya pilihan ideal bagi pencari ketenangan.

Ket. Foto: Bhutan — Sumber: unsplash

Pesona Bhutan di setiap musim

Bhutan menghadirkan pengalaman berbeda sepanjang tahun. Pada musim dingin (Desember–Februari), wisatawan dapat menikmati suasana lembah yang tenang dengan latar pegunungan bersalju.

Memasuki musim semi (Maret–Mei), lanskap berubah menjadi warna-warni bunga, termasuk rhododendron dan anggrek. Periode ini juga menjadi waktu yang tepat untuk aktivitas luar ruang seperti hiking dan eksplorasi alam.

Sementara itu, musim panas (Juni–Agustus) menghadirkan lembah hijau subur dengan aliran sungai jernih, ideal untuk trekking, arung jeram, hingga fly-fishing. Adapun musim gugur (September–November) menjadi momen terbaik untuk menikmati festival budaya dan spiritual, dengan langit cerah yang menambah keindahan panorama pegunungan.

Festival budaya yang sarat makna

Selain alamnya, Bhutan juga dikenal dengan festival tradisional yang kaya nilai budaya dan spiritual. Dalam enam bulan ke depan, sejumlah festival menarik siap menyambut wisatawan.

Mulai dari Rhododendron Week di Trashigang yang menampilkan keindahan bunga rhododendron, hingga Haa Spring Festival di Haa Valley yang merayakan tradisi nomaden dan kuliner lokal.

Ada pula Rhododendron Festival di Royal Botanical Park Lamperi, serta Great Yeti Quest di Sakteng yang menggabungkan petualangan dan budaya lokal.

Pada musim panas, wisatawan dapat mengikuti Matsutake Festival di Genekha dan Ura, yang mengangkat tradisi kuliner jamur liar khas Bhutan. Sementara di musim gugur, festival besar seperti Thimphu Drubchen dan Thimphu Tshechu menghadirkan tarian topeng sakral dan ritual keagamaan yang autentik.

Tak ketinggalan, Bathing Carnival di Pemagatshel menawarkan pengalaman relaksasi melalui tradisi wellness seperti pemandian herbal dan hot-stone.

Lebih dari sekadar liburan

Direktur Departemen Pariwisata Bhutan, Damcho Rinzin, menyebut Bhutan bukan sekadar destinasi, melainkan perjalanan yang menyentuh indra dan jiwa.

Konsep pariwisata Bhutan juga mengusung prinsip high-value, low-volume, yaitu membatasi jumlah wisatawan untuk menjaga kelestarian budaya dan lingkungan sekaligus memastikan setiap perjalanan memberikan pengalaman yang lebih bermakna.

Dengan pendekatan ini, Bhutan tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kesempatan untuk terhubung lebih dalam dengan budaya lokal dan masyarakat setempat.

Bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman autentik, perjalanan ke Bhutan disarankan melalui operator tur berlisensi agar perjalanan lebih lancar sekaligus memberikan pemahaman mendalam tentang kekayaan alam dan budaya Bhutan.

Dengan segala keunikannya, Bhutan menjadi destinasi yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga memberi ruang bagi wisatawan untuk berhenti sejenak dan menemukan ketenangan di tengah perjalanan.

  • Tren Slow Travel
  • Negara Bhutan

Redaktur: Fitrya A Kusumah

Penulis: Fitrya A Kusumah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.