Indonesia Sudah Waktunya Mendiversifikasi Pemasok BBM
Jum'at, 24 Apr 2026, 09:26 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Dosen Magister Ekonomi Terapan Universitas Katolik Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan Indonesia patut mewaspadai risiko kebergantungan terhadap satu atau dua pemasok bahan bakar minyak (BBM), terutama di tengah krisis energi akibat faktor geopolitik.
âApabila pasokan hanya bertumpu pada satu sumber, maka Indonesia akan rentan terhadap gejolak geopolitik maupun fluktuasi harga global,â katanya, Kamis (23/4).
Apalagi, ia menambahkan, BBM merupakan produk vital yang dampaknya langsung terasa terhadap perekonomian nasional.âBagi saya, intinya jangan sampai hanya satu atau dua pemasok minyak ke Indonesia, supaya tidak menimbulkan ketergantungan terhadap negara lain,â kata Suhartoko.
Diversifikasi pemasok dan penguatan kapasitas produksi dalam negeri katanya menjadi langkah penting untuk menjaga ketahanan energi sekaligus stabilitas ekonomi.
Pada kesempatan terpisah, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti mengatakan margin keuntungan kilang minyak Singapura mulai tergerus setelah sumber pasokan minyak mentah bergeser dari Timur Tengah ke Amerika Serikat (AS). Pergeseran itu membuat biaya produksi kilang Singapura lebih mahal dan menurunkan efisiensi operasional.
Minyak mentah AS terang dia sebagian besar juga berasal dari Timur Tengah. Akibatnya, struktur biaya kilang Singapura berubah dan tidak seefisien sebelumnya.
âMinyak mentah AS juga sebagian berasal dari Timur Tengah jadi biaya produksi kilang Singapura lebih mahal sehingga menggerus profitnya,â kata Esther.
Perubahan itu menurunkan hasil produk bahan bakar seperti diesel dan jet fuel, sekaligus meningkatkan biaya logistik karena jenis minyak mentah yang tidak cocok dengan desain kilang Singapura. Meski begitu, diversifikasi pasokan dinilai memperkuat ketahanan pasokan jangka panjang.
Di sisi lain, Indonesia berencana mengurangi impor BBM dari Singapura dan beralih langsung ke Timur Tengah serta AS. Langkah tersebut ditempuh guna efisiensi logistik sekaligus menegosiasikan tarif yang lebih baik.
âMeski ini mungkin perlu strategi negosiasi yang jitu, harus win-win solution,â kata Esther.
Dia menekankan agar Indonesia harus mengurangi kebergantungan impor BBM dengan meningkatkan produksi minyak mentah dalam negeri. Pertamina didorong untuk membangun kilang minyak sendiri serta memperbesar kapasitas tangki penyimpanan dan dermaga agar bisa menampung pasokan langsung dari AS maupun Timur Tengah menggunakan kapal berukuran besar.
Selain itu, pengembangan energi terbarukan jelas Esther dinilai penting agar Indonesia tidak terus bergantung pada energi fosil yang suatu saat bisa habis.
Persoalan Struktural
Direktur Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI) Iyuk Wahyudi menilai kebergantungan Indonesia pada impor BBM, termasuk melalui Singapura sebagai hub energi regional, mencerminkan persoalan struktural dalam sektor energi nasional.
Menurut dia, penggunaan Singapura lebih karena efisiensi perdagangan dan distribusi, namun hal itu sekaligus menunjukkan bahwa kapasitas kilang domestik belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Selama produksi dan pengolahan minyak di dalam negeri masih terbatas, Indonesia akan terus bergantung pada mekanisme pasar regional. âSingapura itu sebenarnya hanya hub, bukan sumber utama energi. Tapi ketika kita terlalu bergantung pada jalur tersebut, itu menandakan ada kelemahan di dalam negeri,â kata Iyuk.
Kondisi tersebut jelasnya berpotensi menjadi kerentanan strategis, terutama di tengah ketidakpastian global. Gangguan distribusi, volatilitas harga minyak, hingga konflik geopolitik dapat langsung berdampak pada pasokan dan harga BBM di Indonesia. Dalam situasi seperti itu, ketergantungan pada impor dinilai membuat ruang manuver pemerintah menjadi terbatas.
Untuk itu, Iyuk mendorong percepatan penguatan kapasitas energi nasional, terutama melalui pembangunan dan modernisasi kilang domestik oleh Pertamina serta pengembangan energi alternatif. Langkah tersebut penting agar Indonesia tidak hanya mengandalkan efisiensi hub regional seperti Singapura, tetapi juga memiliki ketahanan energi yang lebih mandiri dalam jangka panjang.
Sebelumnya diberitakan kilang-kilang minyak Singapura kini menghasilkan margin yang lebih kecil karena mereka beralih ke bahan baku minyak mentah alternatif dari AS dan Afrika Barat untuk mengimbangi gangguan yang timbul dari konflik di Timur Tengah.
Dikutip dari The Bussines Times menyebutkan meskipun biaya pengiriman per barel minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ringan dari AS ke Singapura saat ini lebih rendah daripada biaya jenis minyak mentah Timur Tengah yang lebih mahal seperti minyak mentah Oman, namun pertukaran satu lawan satu tidak layak dilakukan,â kata Direktur Riset perdagangan minyak global di S&P Global, Wang Zhuwei.
Hal itu karena kilang-kilang minyak di Singapura sebagian besar dirancang untuk memproses campuran minyak dengan tingkat keasaman sedang. Sebagai informasi, minyak mentah dikategorikan berdasarkan dua faktor, pertama, kepadatannya yaitu, ringan, sedang, atau berat dan kedua tingkat kandungan sulfurnya, di mana kadar yang lebih rendah dianggap manis dan kadar yang lebih tinggi dikenal asam.ers/YK/SB/E-9
- gejolak geopolitik
Redaktur: Diapari S
Penulis: Diapari S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.