Ditayangkan Live, Siraman Syifa Hadju dan El Rumi Dihujat! Gaya ‘Raja Amangkurat’ Picu Sindiran Pedas

Kamis, 23 Apr 2026, 18:00 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Acara siraman pasangan selebritas Syifa Hadju dan El Rumi yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi nasional mendadak menjadi sorotan publik.

Momen yang seharusnya sakral dan penuh makna itu justru menuai gelombang kritik, terutama dari warganet di media sosial.

Ket. Foto: — Sumber: X

Tidak hanya prosesi siraman yang dipersoalkan, busana yang dikenakan El Rumi turut memicu perdebatan panjang.

Dalam tayangan tersebut, El tampil mengenakan busana yang disebut-sebut terinspirasi dari Raja Amangkurat, salah satu tokoh kerajaan Mataram.

Penampilan itu dimaksudkan untuk memberikan nuansa tradisional dan megah. Namun, alih-alih mendapat pujian, pilihan busana tersebut justru dianggap sebagian pihak sebagai langkah yang kurang tepat dan terkesan berlebihan.

Tuai Kritikan Pedas

Kritik tajam datang dari berbagai akun di platform X. Salah satunya diungkapkan oleh akun @Yang_MuliaPAP.

"Seneng banget main si paling Amangkurat. Berpakaian pun ada langgam. Ga sembarangan bisa pakai pakaian sama dengan raja. Orang biasa saja kenapa mesti fetish kerajaan feodal? Mirisnya Indonesia negara merdeka demokrasi tapi aslinya masih mentalitet feudal.” Cuitan tersebut dengan cepat menyebar dan memicu diskusi yang lebih luas.

Sebagian warganet menilai penggunaan simbol-simbol kerajaan dalam acara pribadi seperti siraman menunjukkan kecenderungan glorifikasi budaya feodal.

Mereka berpendapat bahwa dalam konteks Indonesia modern yang menjunjung nilai demokrasi, penggunaan atribut kerajaan oleh figur publik bisa dianggap tidak sensitif terhadap semangat kesetaraan.

Namun di sisi lain, tidak sedikit pula yang membela pasangan ini. Mereka menganggap bahwa busana tersebut hanyalah bentuk ekspresi budaya dan estetika, bukan upaya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai feodalisme.

Dalam tradisi Jawa sendiri, unsur kerajaan memang sering diadaptasi dalam berbagai upacara adat, termasuk pernikahan, sebagai simbol keagungan dan harapan akan kehidupan yang harmonis.

Perdebatan ini memperlihatkan bagaimana publik kini semakin kritis terhadap representasi budaya di ruang media. Apa yang dulu mungkin dianggap biasa, kini bisa dipertanyakan dari berbagai sudut pandang, mulai dari historis hingga sosial-politik.

Di tengah kontroversi tersebut, baik Syifa Hadju maupun El Rumi belum memberikan tanggapan resmi. Keduanya tampak tetap menjalani rangkaian acara pernikahan dengan khidmat, meski sorotan publik terus mengarah pada detail-detail yang dianggap kontroversial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di era digital, setiap aspek kehidupan publik figur dapat dengan mudah menjadi bahan diskusi luas. Tidak hanya soal estetika, tetapi juga makna dan nilai yang terkandung di baliknya.

Pada akhirnya, perdebatan ini menjadi refleksi menarik tentang bagaimana masyarakat Indonesia memandang tradisi, identitas, dan perubahan zaman.*

  • siraman El Rumi dan Syifa Hadju

Redaktur: Weti Aprianti

Penulis: Weti Aprianti

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.