IMF Tak Punya Otoritas Mengurangi Tingkat Ketidakpastian Global
Jum'at, 17 Apr 2026, 08:37 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan Dana Moneter Internasional (IMF) menyoroti ketidakpastian global yang masih berlangsung beberapa waktu ke depan karena dipicu ketegangan geopolitik dan dinamika hara energi dunia.
Purbaya Yudhi menyampaikn sorotan IMF itu, usaibertemu Managing Director IMF Kristalina Georgieva di sela-sela IMF-World Bank Spring Meeting di Washington yang berlangsung 13-18 April 2026.
Menurut Purbaya, IMF tidak memiliki otoritas untuk mengurangi tingkat ketidakpastian global. Namun, lembaga internasional itu mempersiapkan dukungan dana bila ada negara yang membutuhkan bantuan.
Lembaga itu, kata Menkeu, juga menaruh perhatian pada kemampuan Indonesia bertahan di tengah ketidakpastian global saat ini. Hal itu karena Indonesia memiliki bantalan fiskal yang memadai.
âTentu saja, Indonesia tidak membutuhkan (bantuan), karena anggaran kita cukup baik dan kita masih punya bantalan yang cukup besar yaitu 420 triliun rupiah,â kata Purbaya.
Pemerintah Indonesia jelas Purbaya mengambil manuver strategi dengan mengubah arah kebijakan fiskal sejak akhir tahun lalu, yang dampaknya sudah mulai terlihat pada perekonomian saat ini.
Perubahan strategi itu juga membuat Indonesia memiliki kemampuan merespons tekanan yang lebih baik, termasuk ketika harga minyak dunia melambung tinggi.
âDia (Kristalina Georgieva-red) kelihatannya senang dengan keadaan seperti itu,â klaim Purbaya.
Meski IMF tidak menyusun kebijakan khusus untuk mengurangi tekanan global, kata Purbaya, lembaga itu juga akan mengumumkan negara-negara yang mampu mempertahankan performa yang baik.
Dalam konteks itu, Purbaya optimistis keraguan terhadap kebijakan fiskal Indonesia sudah mereda.
Selain bertemu IMF, Purbaya juga melakukan pertemuan strategis dengan petinggi Bank Dunia serta perwakilan lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings.
Menurutnya, berbagai lembaga global itu mengapresiasi arah strategi kebijakan fiskal Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Bank Dunia juga menyatakan minat untuk memperdalam kerja sama dengan Indonesia, khususnya dalam mendukung pembangunan jangka panjang, pengentasan kemiskinan, serta pembiayaan proyek strategis di negara berkembang.
Bahan Pertimbangan
Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan, prediksi IMF itu seharusnya dipakai sebagai bahan pertimbangan pengelola ekonomi Indonesia.
Dia pun mengimbau agar keyakinan Indonesia bertahan dalam situasi terburuk menghadapi ketidakpastian global dan kenaikan harga energi harus dikomunikasikan secara transparan kepada masyarakat.
âTanpa itu keraguan masyarakat akan meningkat,â kata Suhartoko.
Bantalan fiskal senilai 420 triliun rupiah untuk menjaga ekonomi Indonesia dari gejolak global pada April 2026. Harus dijelaskan secara komprehensif dan transparan.
Jika sumber bantalan dari akumulasi Sisa Anggaran Lebih, maka perlu dipikirkan sumber bantalan lain yang bukan bersifat utang. âUtang siaga (Standby loan) menjadi pilihan terakhir,â katanya.
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, mengatakan, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) selalu mengklaim fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat.
Mereka merujuk cadangan devisa Indonesia yang relatif besar sebagai pendukung. âRupiah seharusnya mengapresiasi. Tapi fakta berkata lain. Rupiah terus tergelincir, kini tembus 17.000 per dolar AS. Mengapa bisa begini, karena cadangan devisa RI menggelembung terus oleh utang luar negeri.
Selama 2014-2025, cadangan devisa naik 44,6 miliar dollar AS (dari 111,9 miliar menjadi 156,5 miliar). Di sisi lain, utang luar negeri melonjak drastis, dari 292 miliar dollar AS (2014) menjadi 431,7 miliar (2025), naik 139,7 miliar dolar AS.
âUtang luar negeri tersebut seharusnya memperkuat cadangan devisa. Tetapi, hanya 32 persen saja yang masuk cadangan. Sisanya untuk menutupi berbagai defisit neraca, terutama defisit neraca pembayaran primer dengan akumulasi mencapai 397,9 miliar dollar AS.ers/E-9
- dampak ekonomi
Redaktur: Diapari S
Penulis: Diapari S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.