Sempat Gaungkan Tolak Poligami, Kok RA Kartini Pasrah Jadi Istri Ke-4 Raden Adipati Djojoadiningrat?
Selasa, 14 Apr 2026, 14:30 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - R.A. Kartini dikenal luas sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia. Namun, di balik gagasan-gagasan progresifnya, terdapat sisi kehidupan pribadi yang kerap menimbulkan pertanyaan, terutama terkait pernikahannya.
Raden Ajeng Kartini menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Djojoadiningrat, pada 12 November 1903 saat usianya 24 tahun.
Dalam pernikahan tersebut, Kartini menjadi istri keempat, sebuah posisi yang tampak bertentangan dengan prinsip hidupnya yang menolak poligami.
Hormati Keinginan Orangtua
Keputusan Kartini menerima pinangan tersebut tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan budaya pada masa itu.
Sebagai perempuan Jawa dari kalangan priyayi, ia hidup dalam sistem nilai yang menempatkan ketaatan kepada orang tua sebagai hal utama.Â
Melansir dari laman museumkartinirembang.id, salah satu alasan terkuat Kartini menerima pernikahan ini adalah rasa hormat dan baktinya kepada sang ayah.
Ia memahami bahwa keputusan tersebut bukan semata tentang dirinya, tetapi juga tentang kehormatan keluarga.
Di sisi lain, pernikahan ini mencerminkan pergeseran dari idealisme menuju realitas. Kartini, yang dalam surat-suratnya sering mengkritik praktik poligami, akhirnya harus berhadapan langsung dengan kenyataan sosial yang sulit diubah secara instan.
Alih-alih terus menolak, ia memilih jalan kompromi yang menurutnya tetap membuka ruang untuk memperjuangkan cita-citanya.
Ajukan Syarat
Menariknya, Kartini tidak menerima pernikahan ini tanpa syarat. Ia mengajukan beberapa ketentuan yang menunjukkan keteguhan prinsipnya. Salah satu syarat utama adalah izin untuk mendirikan sekolah bagi perempuan di Rembang.
Keinginan ini menjadi bukti bahwa meskipun memasuki kehidupan rumah tangga yang kompleks, Kartini tidak meninggalkan misi besarnya dalam mencerdaskan kaum perempuan.
Dari sinilah kemudian lahir langkah konkret yang memperkuat perannya sebagai tokoh pendidikan perempuan.
Suami Mendukung GagasanÂ
Faktor lain yang turut memengaruhi keputusan Kartini adalah sosok suaminya sendiri. K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat dikenal sebagai pria yang berpikiran cukup terbuka untuk ukuran zamannya.
Ia memberikan dukungan terhadap gagasan-gagasan Kartini, termasuk dalam upayanya memajukan pendidikan perempuan.
Dukungan ini menjadi penting karena memberikan ruang bagi Kartini untuk tetap berkarya meskipun berada dalam struktur pernikahan poligami.
Dengan demikian, pernikahan Kartini bukan sekadar kisah pribadi, melainkan refleksi dari pergulatan antara idealisme dan realitas sosial.
Keputusannya menjadi istri keempat bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan strategi untuk tetap melangkah dalam keterbatasan.
Dari posisi tersebut, Kartini justru mampu memperluas pengaruhnya dan meninggalkan warisan pemikiran yang terus hidup hingga kini.*
- RA Kartini dipoligami
Redaktur: Weti Aprianti
Penulis: Weti Aprianti
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.