Deretan Isu Skandal SM Entertainment, Dugaan Kontrak 'Budak' Hingga Ditinggalkan Artis Besar

Senin, 06 Apr 2026, 15:45 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Industri hiburan Korea Selatan kerap dipandang gemerlap dari luar, namun di balik kesuksesan tersebut, tersimpan berbagai dinamika yang tidak selalu berjalan mulus.

Salah satu agensi terbesar, SM Entertainment, telah lama menjadi sorotan publik karena sejumlah kontroversi, terutama terkait sengketa kontrak artis yang sering disebut sebagai kontrak budak.

Ket. Foto: — Sumber: SM Entertainment

Istilah ini merujuk pada perjanjian kerja jangka panjang yang dianggap tidak seimbang dan merugikan artis.

JYJ (TVXQ)

Kontroversi besar pertama yang mengguncang publik terjadi pada tahun 2009, ketika tiga anggota TVXQ, yakni Jaejoong, Yoochun, dan Junsu, mengajukan gugatan terhadap SM Entertainment.

Mereka menilai kontrak berdurasi 13 tahun yang mereka tandatangani terlalu panjang dan tidak adil, baik dari segi pembagian keuntungan maupun kontrol terhadap aktivitas pribadi.

Gugatan ini menjadi titik balik penting dalam industri K-pop, karena untuk pertama kalinya isu ketidakadilan kontrak diangkat secara terbuka ke ranah hukum.

Kasus ini akhirnya berujung pada keluarnya ketiga anggota tersebut dan pembentukan grup baru, JYJ.

Hangeng (Super Junior)

Tak berhenti di situ, kontroversi serupa kembali muncul dari salah satu anggota Super Junior, Hangeng. Ia menjadi salah satu idola generasi awal yang berani mengambil langkah hukum terhadap agensinya.

Hangeng mengungkapkan bahwa kontrak yang ia jalani membatasi kebebasannya, termasuk dalam hal aktivitas individu dan kesehatan. Keputusannya untuk keluar dari SM Entertainment pada tahun 2009 memperkuat narasi bahwa sistem kontrak di industri K-pop, khususnya di agensi besar, perlu dievaluasi.

EXO-CBX

Lebih dari satu dekade kemudian, isu serupa kembali mencuat melalui kasus EXO-CBX, yang terdiri dari Chen, Baekhyun, dan Xiumin. Pada periode 2023 hingga 2024, ketiganya mencoba mengakhiri kontrak dengan SM Entertainment dengan alasan kurangnya transparansi dalam pembagian pendapatan.

Mereka menuntut kejelasan terkait laporan keuangan dan sistem distribusi keuntungan yang dinilai tidak terbuka. Sengketa ini berkembang menjadi konflik hukum yang cukup panjang, menarik perhatian publik global, dan kembali memunculkan perdebatan lama mengenai perlindungan hak artis.

Rangkaian kasus tersebut menunjukkan pola yang berulang dalam hubungan antara artis dan agensi. Di satu sisi, agensi memiliki peran besar dalam membentuk dan mempromosikan artis hingga mencapai kesuksesan internasional. 

Kontroversi-kontrversi ini tidak hanya berdampak pada reputasi SM Entertainment, tetapi juga mendorong perubahan dalam regulasi industri hiburan Korea Selatan.

Pemerintah dan lembaga terkait mulai memperketat aturan kontrak agar lebih adil, termasuk membatasi durasi perjanjian dan meningkatkan transparansi.

Pada akhirnya, deretan sengketa ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap industri hiburan, terdapat perjuangan panjang para artis untuk mendapatkan hak dan perlakuan yang layak.*

  • Skandal SM Entertainment

Redaktur: Weti Aprianti

Penulis: Weti Aprianti

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.