BPS Catat Kenaikan Harga Beras di Tingkat Penggilingan hingga Eceran

Kamis, 02 Apr 2026, 09:58 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM– Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono) mengatakan BPS mencatat terjadinya kenaikan rata-rata harga beras baik di tingkat penggilingan, grosir maupun eceran, masing-masing 0,54 persen, 0,96 persen dan 0,65 persen mtm.

“Sementara realisasi luas panen padi pada Februari 2026 diperkirakan mencapai 0,94 juta hektare (ha) atau naik 23,62 persen dibanding Februari 2025 (0,76 juta hektare),” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4).

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Kenaikan luas panen tersebut, lanjut dia, diikuti pula oleh peningkatan produksi padi. Pada Februari 2026, produksi padi mencapai 5,05 juta ton gabah kering giling (GKG), atau naik 27,41 persen dibandingkan Februari 2025.

Ia mengatakan BPS juga mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Maret 2026 mencapai 125,35 atau turun 0,08 persen dibanding Februari 2026 (month-to-month/mtm).

Penurunan NTP itu karena indeks harga yang diterima petani (It) naik 0,33 persen, lebih rendah dibandingkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang naik 0,41 persen.

BPS juga melaporkan potensi luas panen padi pada Maret-Mei 2026 diperkirakan mencapai 3,85 juta hektare atau mengalami penurunan seluas 0,46 juta hektare, atau sekitar 10,60 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Lebih lanjut diperkirakan potensi produksi padi pada Maret-Mei 2026 mencapai 20,68 juta ton GKG, atau turun 11,12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Adapun produksi beras pada Maret-Mei 2026 diperkirakan sebesar 11,91 juta ton beras, atau turun 11,11 persen.

Sementara itu, realisasi luas panen jagung pada Februari 2026 mencapai 0,31 juta hektare atau turun 7,02 persen dibandingkan Februari 2025.

Sementara itu, produksi jagung pada Februari 2026 tercatat sebesar 1,77 juta ton jagung pipilan kering kadar air 14 persen (JPK KA 14 persen) atau turun 4,91 persen dibandingkan Februari 2025.

Bahan Baku Impor

Menanggapi penurunan itu, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dwijono Hadi Darwanto, menilai penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Maret 2026 tidak lepas dari meningkatnya biaya produksi yang ditanggung petani. Kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) lebih tinggi karena lonjakan ongkos produksi yang dipicu oleh mahalnya bahan baku, khususnya yang berasal dari impor.

Menurut Dwijono, penguatan nilai dollar AS menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga input produksi pertanian. Kebergantungan pada bahan baku impor membuat sektor pertanian sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar, sehingga biaya produksi meningkat secara signifikan dalam waktu singkat.

Dampak kenaikan nilai dollar tidak hanya dirasakan pada sektor produksi pertanian, tetapi juga pada harga barang jadi impor. Kondisi itu memicu kenaikan harga berbagai barang dan jasa lain yang tidak dihasilkan petani, sehingga memperbesar beban pengeluaran mereka.

Dalam situasi tersebut, harga yang diterima petani (It) cenderung tidak meningkat secepat harga yang harus mereka bayar. Akibatnya, terjadi ketimpangan antara penerimaan dan pengeluaran petani yang pada akhirnya menekan NTP.

“Hal yang sangat mungkin terjadi adalah kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dibayar petani relatif lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang diterima petani,” kata Dwijono.

Kondisi tersebut menunjukkan kalau tekanan terhadap kesejahteraan petani tidak hanya berasal dari sisi produksi, tetapi juga dari dinamika ekonomi global yang memengaruhi struktur biaya secara keseluruhan.YK/E-9

  • ketahanan pangan

Redaktur: Diapari S

Penulis: Diapari S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.