Donald Trump Incar Pusat Ekspor Minyak Iran
Selasa, 31 Mar 2026, 09:53 WIBWASHINGTON, KUCANTIK.COM - Dalam wawancara Financial Times, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu (29/3), mengatakan, ingin âmengambil alih minyakâ di Iran, dengan merebut pusat ekspor negara tersebut yakni Pulau Kharg.
Wawancara tersebut dilakukan ketika ribuan pasukan AS berkumpul di wilayah Teluk Persia, termasuk tim penyerang amfibi yang tiba pada 28 Maret. Sementara sebagian dari Divisi Lintas Udara ke-82 juga sedang dalam perjalanan.
Trump pun membandingkan upaya tersebut dengan operasi di Venezuela pada bulan Januari, ketika AS menangkap pemimpin negara Amerika Selatan itu , Nicolas Maduro, dan berencana untuk mengendalikan industri minyaknya.
Harga minyak mentah Brent diperdagangkan lebih tinggi dari 115 dollar AS per barel, mendekati level tertinggi sejak perang dimulai.
AS dan Israel telah menghujani Iran dengan serangan selama empat minggu, dan Iran telah melakukan serangan balas ke Israel, terhadap target militer AS, dan terhadap lokasi industri di negara-negara sekutu AS di Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain.
âSejujurnya, hal favorit saya adalah mengambil minyak di Iran, tetapi beberapa orang bodoh di AS mengatakan: 'Mengapa Anda melakukan itu?' Tapi mereka memang orang bodoh,â katanya kepada surat kabar tersebut.
Berbeda dengan di Venezuela, merebut minyak Iran akan melibatkan invasi dan penguasaan pusat ekspor utamanya, Pulau Kharg, yang juga menjadi lokasi pangkalan angkatan laut Iran.
âPasukan kami sedang menunggu tentara Amerika memasuki wilayah tersebut,â kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada 29 Maret , menurut kantor berita semi resmi Iran Tasnim.
Trump mengatakan bahwa merebut Pulau Kharg juga berarti harus berada di sana untuk sementara waktu.
Ketika ditanya tentang kondisi pertahanan Iran di Pulau Kharg, dia berkata: âSaya rasa mereka tidak memiliki pertahanan apa pun. Kita bisa merebutnya dengan sangat mudah,â katanya.
Diungkapkan Diawal
Wakil Rektor Tiga, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam, mengatakan, pernyataan Trump bahwa AS ingin menguasai produksi minyak Iran bukanlah sesuatu yang mengejutkan karena itu juga pernah dilakukan presiden AS ke 43, George W. Bush setelah perang Irak jilid kedua.
âSatu-satunya yang baru, yaitu keinginan itu diungkapkan di depan sebelum dilakukan, selebihnya sudah bisa diduga karena kita tahu Trump tidak mengharamkan energi fosil dan tentu perang yang memakan biaya ratusan miliar dollar jika berkepanjangan perlu dicarikan pengganntinya. Ini juga dilakukan George W. Bush setelah peristiwa 9/11, pasca perang dengab alasan mencari senjata pemusnah massal di Irak, perusahaan-perusahaan minyak lalu menguasai produksi minyaknya,â kata Surokim.
Kedua pemimpin AS itu jelasnya dari Partai Republik, jadi kebijakannya tidak akan jauh berbeda. Meskipun sekarang sudah ada suara-suara yang mempertanyakan rencana itu, paling tidak nanti akan didukung oleh partai pengusungnya. ST/BLOOMBERG/SB/E-9
- Konflik Timur Tengah
Redaktur: Diapari S
Penulis: Diapari S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.