Dunia di Ambang Krisis! Perang Picu Energi Langka, Harga Melonjak dan Penerbangan Lumpuh

Jum'at, 27 Mar 2026, 06:15 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Ketegangan konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat kini mulai menunjukkan dampak nyata bagi dunia. Salah satu pemicu terbesar adalah keputusan Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak global.

Penutupan jalur ini langsung mengguncang stabilitas energi dunia, terutama di kawasan Asia yang sangat bergantung pada impor minyak. Lebih dari 80% pasokan minyak mentah di Asia diketahui melewati jalur tersebut, membuat kawasan ini menjadi yang paling rentan terhadap krisis.

Dampaknya tidak main-main. Sejumlah negara mulai mengalami krisis energi yang meluas, bukan hanya pada bahan bakar minyak (BBM), tetapi juga liquefied petroleum gas (LPG). Efek domino pun terjadi, harga bahan makanan melonjak karena distribusi terganggu, biaya produksi meningkat, hingga aktivitas transportasi ikut terhambat.

Salah satu negara yang paling terdampak adalah Filipina. Presiden Ferdinand R. Marcos Jr. bahkan telah menetapkan status darurat energi pada 24 Maret 2026. Ketergantungan tinggi terhadap impor minyak membuat negara ini menghadapi gangguan pasokan dan lonjakan harga yang mengancam stabilitas ekonomi.

Krisis serupa juga melanda Kamboja, di mana ribuan stasiun pengisian bahan bakar sempat tutup akibat kelangkaan BBM. Sementara itu, beberapa negara seperti Thailand, Vietnam, dan China mengambil langkah cepat dengan membatasi ekspor bahan bakar demi menjaga pasokan dalam negeri.

Upaya lain juga dilakukan dengan meningkatkan produksi energi alternatif. Negara-negara seperti Thailand, Bangladesh, dan Filipina mulai mengandalkan pembangkit listrik tenaga batu bara. Pakistan memperkuat energi surya, sementara Korea Selatan meningkatkan penggunaan energi nuklir.

Tak hanya BBM, krisis juga merembet ke LPG. India menjadi salah satu yang paling terdampak. Negara ini sebelumnya mengimpor sebagian besar kebutuhan LPG dari Timur Tengah. Kini, sejumlah kapal tanker yang membawa jutaan ton minyak dan gas masih tertahan di Selat Hormuz, memperparah kelangkaan.

Pemerintah India pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying serta mulai beralih ke alternatif seperti gas pipa atau kompor listrik. Bahkan, puluhan ribu sambungan gas baru mulai dipasang untuk mengatasi krisis.

Dampak lain yang tak kalah terasa adalah di sektor penerbangan. Kenaikan harga dan keterbatasan pasokan bahan bakar aviasi (avtur) memaksa maskapai seperti Vietnam Airlines memangkas puluhan penerbangan domestik setiap minggunya mulai April 2026.

Selain itu, banyak penerbangan menuju kawasan Timur Tengah terpaksa dibatalkan, termasuk ke kota-kota seperti Dubai, Abu Dhabi, Tel Aviv, Doha, Amman, hingga Beirut.

Kondisi ini menunjukkan krisis energi bukan lagi ancaman, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung. Dari lonjakan harga hingga gangguan mobilitas global, dampaknya terasa di berbagai sektor kehidupan.

Jika konflik terus berlanjut, bukan tidak mungkin dunia akan menghadapi krisis yang lebih dalam. Kini, semua mata tertuju pada bagaimana negara-negara mampu bertahan dan beradaptasi di tengah ketidakpastian global yang semakin memanas.

  • krisis BBM
  • dampak krisis energi

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.