Kenapa Generasi Z Lebih Sering Mengalami Gangguan Kesehatan Mental?

Selasa, 24 Mar 2026, 18:15 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Dalam beberapa tahun terakhir, pembahasan soal kesehatan mental semakin mengemuka, terutama terkait Generasi Z yang lahir antara 1997 hingga 2012. Generasi ini tumbuh bersama internet, media sosial, dan arus informasi yang berjalan tanpa henti.

Lingkungan yang serba cepat dan kompetitif membentuk cara pandang yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Di satu sisi, Gen Z dikenal adaptif dan kritis. Namun di sisi lain, tekanan dari berbagai arah membuat mereka lebih rentan terhadap kecemasan, overthinking, hingga depresi.

Ket. Foto: Gen Z — Sumber: Instagram

Berikut sejumlah faktor yang sering dikaitkan dengan meningkatnya gangguan kesehatan mental di kalangan Gen Z.

1. Tekanan Media Sosial dan Hiper-Konektivitas

Media sosial menjadi ruang utama bagi Gen Z untuk berinteraksi, mencari hiburan, hingga membangun identitas diri. Namun, intensitas penggunaan yang tinggi membawa konsekuensi tersendiri.

Berbagai penelitian menunjukkan semakin lama waktu yang dihabiskan di media sosial, semakin besar risiko gangguan kesehatan mental. Akses tanpa batas terhadap konten membuat anak muda terus terpapar standar hidup, pencapaian, dan penampilan fisik yang sering tidak realistis.

Kehadiran influencer dan figur publik memperkuat budaya perbandingan sosial, memicu rasa tidak aman, citra tubuh negatif, dan Fear of Missing Out (FOMO).

Selain itu, dunia digital membuka ruang bagi cyberbullying dan pelecehan online. Kombinasi perbandingan sosial, komentar negatif, dan tekanan untuk selalu terlihat sempurna dapat memicu gejala depresi serta kecemasan berlebih.

2. Ketidakpastian Masa Depan

Gen Z tumbuh di tengah perubahan besar, mulai dari pandemi global, krisis ekonomi, hingga percepatan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI).

Kemajuan teknologi membuka peluang baru, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan pekerjaan. Persaingan kerja yang ketat, sulitnya mendapatkan pekerjaan stabil, serta meningkatnya biaya hidup dan perumahan menambah beban psikologis. Bagi mereka yang baru lulus atau memasuki dunia kerja, tekanan untuk segera mapan terasa nyata.

Ketidakpastian ini memicu future anxiety, yaitu kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi, perubahan iklim, dan dinamika sosial politik global, sehingga rasa aman terhadap masa depan menjadi rapuh.

3. Isolasi Sosial dan Kesepian

Meski selalu terhubung secara digital, Gen Z tidak terbebas dari rasa kesepian. Survei menunjukkan hampir separuh responden Gen Z menghabiskan 10 jam atau lebih di internet setiap hari.

Intensitas ini sering mengurangi interaksi tatap muka yang lebih bermakna. Minimnya koneksi sosial secara langsung meningkatkan perasaan terisolasi, kondisi yang semakin terasa setelah pandemi COVID-19 membatasi aktivitas sosial di masa penting perkembangan mereka.

4. Tuntutan Akademik dan Karier

Ekspektasi untuk sukses sejak usia muda menjadi tekanan tersendiri bagi Gen Z. Standar pencapaian tinggi dari keluarga maupun lingkungan sosial membuat banyak anak muda merasa harus selalu produktif dan kompetitif.

Di dunia pendidikan, persaingan akademik semakin ketat. Setelah lulus, tantangan berlanjut ke dunia kerja yang menuntut keahlian beragam serta kemampuan beradaptasi cepat.

Tekanan untuk mencapai work-life balance di tengah tuntutan karier kerap berujung pada burnout. Ketika target dan realita tidak sejalan, rasa gagal dan tidak cukup baik dapat muncul, berdampak negatif pada kesehatan mental.

5. Kesadaran dan Keterbukaan yang Lebih Tinggi

Meningkatnya angka laporan gangguan mental pada Gen Z juga dipengaruhi oleh kesadaran yang lebih besar terhadap isu ini. Generasi ini lebih terbuka membicarakan kesehatan mental dan tidak lagi menganggapnya tabu.

Stigma yang menurun membuat lebih banyak anak muda berani mengakui kondisi yang dialami dan mencari bantuan profesional. Hal ini membuat angka kasus terlihat lebih tinggi, meskipun mencerminkan keberanian untuk bersuara. Keterbukaan ini menjadi langkah positif dalam pencegahan dan penanganan gangguan mental sejak dini.

6. Paparan Berita Negatif

Arus informasi yang deras membuat Gen Z sulit lepas dari paparan berita negatif, mulai dari konflik global, ketidakadilan sosial, bencana alam, hingga krisis ekonomi. Paparan berulang terhadap konten yang memicu kekhawatiran dapat meningkatkan stres dan kecemasan.

Tanpa jeda yang cukup dari informasi tersebut, pikiran terus berada dalam mode waspada. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memperburuk kesehatan mental jika tidak diimbangi dengan batasan konsumsi informasi dan dukungan sosial yang memadai.

  • Gen Z
  • Kesehatan Mental Gen Z

Redaktur: Fitrya A Kusumah

Penulis: Fitrya A Kusumah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.