- Home
-
- Entertainment
-
- Kontroversi Anwar Sanjay...
Kontroversi Anwar Sanjaya: MUI Desak KPI Beri Sanksi Tegas di Tengah Tayangan Ramadan
Jum'at, 20 Mar 2026, 09:00 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Presenter sekaligus komedian Anwar Sanjaya, yang dikenal luas dengan nama Anwar BAB, tengah menjadi sorotan publik setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) merekomendasikan agar dirinya mendapatkan sanksi tegas dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
Polemik ini mencuat usai MUI melakukan pemantauan terhadap sejumlah program televisi nasional selama Ramadan 1447 H, yang bertujuan memastikan tayangan tetap sesuai dengan nilai-nilai moral dan etika, khususnya di bulan suci.
Dalam hasil pemantauan tersebut, MUI menemukan adanya dugaan pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) dalam program âIndahnya Ramadanâ yang ditayangkan di Trans TV.
Beberapa adegan yang melibatkan Anwar BAB dinilai mengandung unsur yang tidak pantas untuk ditayangkan, terlebih pada waktu sahur yang identik dengan tontonan keluarga, termasuk anak-anak.
MUI menyoroti sejumlah tindakan yang dianggap melanggar norma penyiaran, di antaranya unsur kekerasan fisik dan verbal, body shaming, hingga gestur yang dinilai mengarah pada tindakan erotis.
Konten semacam ini dianggap tidak sejalan dengan semangat Ramadan yang seharusnya mengedepankan nilai kesopanan, edukasi, dan keteladanan.
Kronologi teguran ini bermula dari laporan hasil pemantauan rutin MUI yang dilakukan setiap Ramadan. Program-program televisi menjadi fokus utama karena memiliki jangkauan luas dan pengaruh besar terhadap masyarakat.
Dalam konteks ini, program sahur dinilai sangat krusial karena ditonton oleh berbagai kalangan usia, sehingga kontennya harus benar-benar terjaga.
Temuan MUI kemudian disampaikan kepada KPI sebagai lembaga yang berwenang dalam mengawasi dan memberikan sanksi terhadap pelanggaran penyiaran. Rekomendasi tersebut memicu perbincangan luas di masyarakat, terutama di media sosial.
Banyak pihak yang mendukung langkah MUI sebagai upaya menjaga kualitas tayangan, namun tidak sedikit pula yang menilai bahwa unsur komedi sering kali bersifat spontan dan kontekstual.
Kontroversi ini kembali membuka diskusi mengenai batasan dalam dunia hiburan, khususnya komedi di televisi. Di satu sisi, komedian dituntut untuk menghibur dan menghadirkan suasana ringan.
Namun di sisi lain, mereka juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga norma dan sensitivitas publik, terutama dalam momen keagamaan seperti Ramadan.
Kasus Anwar BAB menjadi pengingat bahwa industri penyiaran tidak hanya soal rating dan hiburan semata, tetapi juga menyangkut tanggung jawab sosial. Evaluasi terhadap konten menjadi penting agar tayangan tetap mendidik dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi penonton.
Ke depan, diharapkan seluruh pihak yang terlibat dalam produksi program televisi dapat lebih berhati-hati dalam menyajikan konten. Dengan demikian, tayangan Ramadan dapat benar-benar menjadi sarana hiburan yang positif sekaligus memperkuat nilai-nilai moral di tengah masyarakat.*
- Kontroversi Anwar Sanjaya
Redaktur: Weti Aprianti
Penulis: Weti Aprianti
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.