Waspadalah! Ekonomi Indonesia Bisa Jebol Jika Inflasi Lampaui 5 Persen

Selasa, 17 Mar 2026, 09:16 WIB

JAKARTA - Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegeoro (Undip) Semarang Esther Sri Astuti mengatakan kenaikan harga energi global di tengah meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadan dan menjelang IdulFitri berpotensi menambah tekanan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia serta ketahanan sektor usaha, terutama UMKM.

“Situasi ini harus benar-benar diwaspadai karena jika inflasi sampai tembus 5 persen, ekonomi Indonesia bisa jebol,” kata Direktur Eksekutif Indef itu, Senin (16/3).

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Menurut dia, lebaran selalu terjadi, dan mendorong inflasi dari sisi demand karena ada peningkatan konsumsi rumah, ditambah risiko inflasi karena ada kenaikan harga minyak dunia sehingga mendorong inflasi dari sisi supply.

Selama ini, terang dia, Ramadan dipandang sebagai peluang dan tantangan bagi perekonomian Indonesia. Adanya dinamika global seperti perang mempengaruhi stabilitas ekonomi. Potensi tersebut terlihat dari penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) yang mendorong lonjakan permintaan pangan,sandang, transportasi, serta mudik.

Namun, ketika menjelang Ramadan dan Idul Fitri sering terjadi lonjakan inflasi terutama pada komponen volatile food dan administered prices yang menyebabkan peran THR tidak begitu signifikan menaikkan daya beli. Kondisi yang demikian diperparah oleh kenaikan harga BBM, kemacetan saat mudik, serta dampak konflik global yang mendorong kenaikan harga energi dan bahan baku.

Dampak ekonomi Ramadan dan Idul Fitri tercermin dari pertumbuhan M1 yang meningkat namun pertumbuhannya melambat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini mengonfirmasi pelemahan daya beli. Sementara itu, peningkatan konsumsi lebih banyak terjadi pada kelompok berpendapatan tinggi sedangkan kelas menengah ke bawah semakin tertekan. Kenaikan inflasi terjadi karena seasonal inflation baik dari demand side maupun supply side.

Direktur Eksekurif IESR Fabby Tumiwa mengatakan, inflasi bulan ini memang disebabkan kenaikan harga bahan pangan atau pokok karena kenaikan permintaan sepanjang bulan Ramadan, kenaikan harga transportasi karena lonjakan pemudik, dan kenaikan harga bahan bakar (BBM) karena faktor kenaikan harga minyak, serta pelemahan nilai tukar rupiah.

Faktor Idul Fitri

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara memprediksi inflasi melonjak hingga mencapai 5 - 5,4 persen pada Maret (year on year/yoy) karena faktor libur Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026, serta konsumsi bahan bakar minyak (BBM) tinggi yang memengaruhi harga bahan pangan/pokok selama momentum ini.

“Inflasi diperkirakan melonjak 5 hingga 5,4 persen pada Maret (yoy) karena faktor Lebaran, tapi juga dorongan kenaikan harga BBM nonsubsidi. Tantangan akan muncul saat konsumsi BBM pada saat mudik Lebaran lebih tinggi, sementara stok terganggu dengan adanya perang di Timur Tengah,” kata Bhima saat dihubungi di Jakarta, Senin.

“Inflationary pressure dari BBM ke pangan meningkatkan harga di level pasar tradisional dan ritel modern,” jelasnya.

Lebih lanjut, Bhima mengatakan biaya logistik yang naik ini akan diteruskan dari pengusaha ke konsumen, yang dapat memengaruhi perilaku belanja pada momentum tersebut. “Ekspektasi masyarakat sebagian akan berhemat di kala Lebaran, atau tidak membelanjakan seluruh dana tunjangan hari raya (THR). Efeknya adalah masyarakat menahan belanja barang sekunder dan tersier saat Lebaran. Konsumsi jadi tidak optimal, padahal ini momentum yang ditunggu pelaku usaha sepanjang tahun,” jelas dia.

Fenomena lain, lanjut Bhima, adalah pengurangan durasi hari tinggal (duration of stay) di lokasi mudik, yang juga dipengaruhi naiknya harga kebutuhan pokok. Oleh karena itu, ia menilai penting pemerintah untuk memperhatikan ketersediaan pasokan energi di tengah libur Lebaran 2026. “Pemerintah harus siapkan pasokan, (khususnya) di luar Jawa. Mungkin saat Lebaran, untuk region Jawa tidak ada masalah. Tapi di daerah harus dipastikan tidak terjadi antrean di SPBU dan agen LPG,” ujar dia.

Lebih lanjut, Bhima mengatakan adanya penerapan bekerja dari mana saja (work from anywhere/WFA) dan bekerja dari rumah (work from home/WFH) selama 5 hari untuk ASN maupun swasta juga menjadi alternatif untuk mengurangi penggunaan energi.

Bhima menilai pemerintah juga dapat mempertimbangkan realokasi anggaran untuk menjaga stabilitas harga energi di tengah potensi kenaikan inflasi akibat lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak memiliki efek transmisi langsung terhadap inflasi energi dan pangan di dalam negeri. Menurut dia, tanpa kebijakan penahan harga energi maka kenaikan harga minyak dapat mendorong peningkatan inflasi domestik. “Pengendalian inflasi tergantung seberapa kuat subsidi energi,” ujarnya.

Ia mencatat inflasi Indonesia telah mencapai sekitar 4,76 persen pada Februari sebelum terjadinya eskalasi konflik yang memicu kenaikan harga minyak dunia. (rik/S-2)

  • dampak ekonomi

Redaktur: Diapari S

Penulis: Diapari S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.