Krisis Driver Ojol di Kota Besar, Unggahan Driver Ini Ungkap Dugaan Penyebabnya

Sabtu, 14 Mar 2026, 09:00 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Belakangan ini, warga di berbagai kota besar di Indonesia mengeluhkan fenomena langkanya driver ojek online (ojol) baik pada jam sibuk maupun waktu normal.

Penantian yang lama hingga pembatalan pesanan secara sepihak kini kerap dialami pengguna aplikasi transportasi online.

Ket. Foto: Krisis Driver Ojol — Sumber: Instagram

Namun, sebuah pengakuan mengejutkan dari akun Threads @silenceawhile mengungkap dugaan sisi lain di balik operasional aplikator besar seperti Gojek, Grab, dan Shopee yang disebut-sebut memicu kondisi tersebut.

Melalui unggahan Threads yang viral, seorang mitra driver mengaku sebagai pengemudi ojol dan menyampaikan pengalamannya secara terbuka.

"Gue driver ojol (Gojek) please lo wajib baca ini syukur-syukur kalau lo share biar se-Indonesia pada melek apa yang terjadi," tulisnya mengawali unggahan tersebut.

Ia menyebut fenomena kelangkaan driver bukan sekadar disebabkan musim liburan atau periode ramai (high season), melainkan diduga berkaitan dengan kebijakan sistemik yang ia sebut sebagai "Kapitalism Tingkat Dewa".

Menurutnya, salah satu penyebab sulitnya mendapatkan driver berasal dari kebijakan internal aplikator yang membagi mitra pengemudi menjadi dua kelompok, yakni driver yang membayar langganan tertentu dan driver reguler.

Driver disebut harus mengikuti program yang disebutnya sebagai "program dajjal bernama layanan hemat".

Dalam program tersebut, driver diminta membayar biaya langganan sekitar Rp20 ribu per hari atau sekitar Rp600 ribu per bulan untuk mendapatkan jaminan minimal 10 pesanan setiap hari.

"Algoritma sistem ojol akan memprioritaskan orderannya ke orang-orang yang bayar ini, sedangkan orang-orang yang enggak mau diperbudak dan milih enggak bayar akhirnya cuma dapet sisaan," tulisnya.

Ia menilai kondisi tersebut menjelaskan mengapa terkadang terdapat driver yang berada dekat dengan lokasi pelanggan namun tidak mendapatkan pesanan.

Sebaliknya, pesanan justru diteruskan kepada driver yang disebut sebagai "prioritas", meski jarak penjemputannya bisa mencapai 5 hingga 8 kilometer. Menurutnya, dampak kebijakan ini tidak hanya dirasakan oleh pengemudi, tetapi juga oleh pelanggan.

Sejumlah pengguna mengeluhkan tarif yang melonjak saat jam sibuk atau ketika hujan. Namun, kenaikan tarif tersebut diduga tidak sepenuhnya diterima oleh driver.

Sebaliknya, layanan murah yang dinikmati konsumen disebut berasal dari potongan biaya yang dibebankan kepada mitra pengemudi.

"Customer bayar mahal tapi enggak masuk ke driver, customer bayar murah itu karena disubsidi sama duit driver," tulisnya.

Kondisi ini membuat sebagian driver reguler enggan mengambil pesanan. Biaya bahan bakar untuk menjemput pelanggan di lokasi yang jauh dinilai tidak sebanding dengan pendapatan yang disebut hanya berkisar Rp8.000 per pesanan.

Di sisi lain, driver yang sudah memenuhi target pesanan harian disebut cenderung mematikan aplikasi lebih cepat. Hal ini dinilai dapat menyebabkan kekosongan armada di lapangan yang berujung pada penumpukan pesanan yang tidak tertangani.

Situasi tersebut juga disebut semakin kompleks dengan munculnya program pengiriman kilat yang menuntut pengemudi bekerja dalam waktu yang sangat singkat.

Salah satu program yang disebutkan adalah layanan pengiriman cepat seperti GoSend yang menargetkan paket tiba dalam waktu satu jam.

"Aplikator lagi-lagi ngeluarin ide iblis gimana caranya bisa menyiksa drivernya, dibuatlah program Gosend sejam sampe," tulisnya.

Menurutnya, dalam program tersebut, driver dituntut melakukan penjemputan paket hanya dalam hitungan menit tanpa toleransi waktu. Tekanan tersebut dinilai tidak hanya berdampak pada kualitas layanan, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan pengemudi.

Disebutkan bahwa dalam waktu kurang dari empat menit, paket sudah harus dijemput. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memicu kecelakaan akibat kelelahan dan terburu-buru di jalan.

Ia menilai, kebijakan yang terlalu berorientasi pada keuntungan perusahaan berpotensi memicu fenomena kelangkaan driver di berbagai kota.

Selama sistem algoritma disebut masih memprioritaskan pembayaran langganan dibandingkan efisiensi jarak, maka penumpukan pesanan di sejumlah kota besar di Indonesia diperkirakan akan terus terjadi.

  • driver ojek online
  • Krisis Ojol

Redaktur: Fitrya A Kusumah

Penulis: Fitrya A Kusumah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.