3 Hikmah dan Keutamaan Sakit di 10 Hari Terakhir Ramadan Menurut Syekh Ali Jaber
Jum'at, 13 Mar 2026, 16:00 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Ramadan merupakan momen istimewa bagi umat Muslim untuk meningkatkan ibadah. Terlebih pada sepuluh hari terakhir, banyak orang berlomba memperbanyak amal seperti tadarus Al Quran, sholat malam, dan doa untuk meraih Lailatul Qadar, malam yang diyakini lebih baik dari seribu bulan.
Namun, tidak semua orang dapat menjalani ibadah secara maksimal di fase tersebut. Sebagian umat Muslim justru harus menghadapi kondisi sakit, mulai dari demam, gangguan lambung, sakit gigi, hingga kelelahan fisik.
Bagi sebagian orang, sakit di akhir Ramadan bisa menimbulkan rasa sedih karena merasa kehilangan kesempatan beribadah. Padahal menurut pendakwah almarhum Syekh Ali Jaber, kondisi tersebut justru membawa kabar baik dari Allah SWT.
Dalam salah satu ceramahnya, ia menjelaskan orang yang sedang sakit tetap memiliki peluang besar mendapatkan pahala dan kedekatan spiritual dengan Allah. Bahkan ada tiga kabar gembira yang diberikan kepada orang yang sedang diuji dengan sakit.
1. Dosa Dihapuskan
Menurut Syekh Ali Jaber, rasa sakit yang dialami seorang hamba dapat menjadi sarana penghapusan dosa. Setiap rasa tidak nyaman yang dirasakan tubuh merupakan bagian dari ujian yang dapat membersihkan kesalahan yang pernah dilakukan.
Karena itu, sakit tidak selalu harus dipandang sebagai musibah semata. Dalam pandangan Islam, ujian kesehatan juga bisa menjadi jalan bagi seorang hamba untuk kembali bersih dari dosa-dosanya.
2. Derajat di Sisi Allah Diangkat
Kabar baik kedua adalah meningkatnya derajat seseorang di hadapan Allah SWT. Kesabaran dalam menghadapi sakit merupakan bentuk ibadah tersendiri.
Seseorang yang tetap bersabar, tidak mengeluh berlebihan, dan tetap berusaha mendekatkan diri kepada Allah ketika sakit diyakini akan mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi di sisiNya.
Hal ini menunjukkan nilai ibadah tidak hanya diukur dari banyaknya aktivitas fisik, tetapi juga dari keteguhan hati dalam menghadapi ujian.
3. Doa Lebih Mudah Dikabulkan
Syekh Ali Jaber juga menjelaskan doa orang yang sedang sakit memiliki keistimewaan tersendiri. Dalam beberapa kesempatan, ia bahkan mengaku sering meminta doa dari pasien yang sedang dirawat di rumah sakit.
Menurutnya, banyak orang terkejut ketika ia justru meminta didoakan orang sakit. Ia menjelaskan kondisi sakit membuat seseorang berada dalam keadaan yang lebih dekat dengan Allah.
Hal ini sejalan dengan makna dalam Hadis Qudsi, yang menggambarkan  Allah berada di sisi hambaNya yang sedang sakit, terutama ketika ada orang yang menjenguknya.
Kedekatan spiritual tersebut membuat doa yang dipanjatkan dalam kondisi sakit memiliki peluang besar untuk dikabulkan.
Amal Ibadah Tetap Dicatat Sempurna
Selain tiga kabar baik tersebut, Syekh Ali Jaber juga mengingatkan pahala ibadah orang yang sakit tetap dicatat seperti ketika ia sehat.
Misalnya, seseorang yang biasanya melaksanakan salat dengan berdiri mungkin harus melakukannya dengan duduk atau bahkan berbaring karena kondisi tubuh yang lemah. Meski secara lahiriah terlihat berkurang, pahala ibadahnya tetap dihitung sempurna di sisi Allah.
Para ulama hadis menjelaskan hal ini merupakan bentuk kasih sayang dan rahmat Allah kepada hamba-Nya yang sedang diuji dengan kondisi kesehatan.
Sakit Bukan Akhir Kesempatan Beribadah
Karena itu, sakit yang datang di sepuluh hari terakhir Ramadan tidak seharusnya membuat seseorang merasa kehilangan kesempatan meraih pahala.
Sebaliknya, kondisi tersebut justru bisa menjadi momen untuk mendapatkan pengampunan dosa, meningkatkan derajat, serta memperbanyak doa kepada Allah.
Dengan tetap bersabar dan menjaga keimanan, ujian sakit dapat berubah menjadi ladang pahala yang besar di bulan suci. Wallahu aâlam.
- Sakit
- ramadan
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.