Anak Jadi Jomblo Akut, Orang Tua Rela Serbu Pasar Jodoh Demi Dapatkan Menantu Idaman

Selasa, 24 Feb 2026, 06:00 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Setiap akhir pekan, sudut hijau di People's Park berubah menjadi arena perburuan cinta paling unik di dunia. Bukan para lajang yang sibuk mencari pasangan, melainkan para orang tua yang rela antre dan berdiri berjam-jam demi satu tujuan, mencarikan jodoh terbaik untuk anak mereka.

Di sepanjang jalur taman, pemandangan tak biasa tersaji. Kertas-kertas berisi CV kehidupan anak ditempel di payung, digantung di tas, bahkan digelar di atas lantai. Informasinya sangat detail, usia, tinggi badan, pekerjaan, gaji, hingga kepemilikan rumah dan mobil. Ironisnya, tak sedikit anak yang bahkan tidak tahu biodata mereka sedang dipasarkan secara terbuka.

Fenomena yang dikenal sebagai marriage market ini sudah berlangsung sekitar dua dekade. Selain orang tua, agen perjodohan profesional hingga para lajang dari berbagai kelompok usia ikut meramaikan. Namun yang paling gigih tetap para orang tua, mereka datang dengan kecemasan yang sama: anak belum menikah.

Kecemasan ini bukan sekadar soal tradisi, tetapi juga cerminan masalah nasional. Data terbaru menunjukkan China mencatat 6,76 juta pernikahan sepanjang 2025, naik 10,8 persen dibandingkan 2024 yang sempat menjadi rekor terendah. Meski terdengar positif, angka tersebut masih jauh dibandingkan 12,25 juta pernikahan pada 2015. Artinya, tren penurunan selama satu dekade belum benar-benar pulih.

Lebih mengkhawatirkan lagi, angka kelahiran ikut terjun bebas. Sepanjang 2025, hanya tercatat 7,92 juta bayi lahir, rekor terendah baru bagi negara dengan populasi terbesar kedua di dunia ini. Kombinasi penurunan pernikahan dan kelahiran mempercepat laju penuaan penduduk, menciptakan tekanan besar pada sistem sosial dan ekonomi.

Banyak pengamat menilai situasi ini tak lepas dari warisan kebijakan satu anak yang diberlakukan sejak 1979 hingga 2015. Kebijakan tersebut membentuk generasi yang tumbuh tanpa saudara kandung, lebih independen, dan memiliki pandangan berbeda tentang keluarga. Jika generasi sebelumnya menempatkan pernikahan sebagai kewajiban sosial, generasi muda kini melihatnya sebagai pilihan pribadi yang harus dipertimbangkan matang-matang.

Pemerintah China pun tak tinggal diam. Sejak Mei 2025, pasangan diperbolehkan mendaftarkan pernikahan di mana saja tanpa harus kembali ke kampung halaman. Sejumlah provinsi bahkan menawarkan cuti menikah hingga satu bulan serta insentif tunai untuk mendorong pasangan melangkah ke pelaminan.

Namun, para ahli seperti Stuart Gietel-Basten dari Hong Kong University of Science and Technology mengingatkan kenaikan angka pernikahan belum tentu menjadi titik balik permanen. Bisa jadi, lonjakan tersebut hanya efek penundaan akibat pandemi atau pertimbangan kalender tradisional.

Faktor mendasar yang membuat generasi muda menunda atau menolak menikah tetap ada: pengangguran, jam kerja panjang, harga properti yang melambung, biaya hidup tinggi, serta tekanan karier. Belum lagi tanggung jawab merawat orang tua di tengah populasi yang menua.

Pada akhirnya, pasar jodoh di Shanghai bukan sekadar kisah unik tentang orang tua yang terlalu ikut campur. Pasar jodoh ini menjadi potret kecemasan kolektif sebuah bangsa yang sedang berpacu melawan waktu, antara tradisi, tekanan ekonomi, dan perubahan nilai generasi.

  • China
  • jodoh

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.