Dibiayai LPDP, Tapi Sebut Paspor Indonesia Lemah? Ini Kronologi Ucapan Viral Dwi Sasetyaningtyas

Jum'at, 20 Feb 2026, 09:15 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Sebuah vlog yang dibuat Dwi Sasetyaningtyas, alumnus beasiswa bergengsi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), menjadi viral di media sosial.

Dwi Sasetyaningtyas menjadi sasaran kemarahan publik setelah unggahannya dianggap merendahkan martabat paspor Indonesia.

Ket. Foto: Sasetyaningtyas — Sumber: Instagram

Kronologi keributan ini bermula pada Februari 2026, saat Tyas menerima paket amplop berwarna cokelat dari Home Office Inggris. Dalam vlog tersebut, ia tampak emosional saat membuka dokumen kewarganegaraan anak keduanya.

"Ini paket bukan sembarang paket, isinya adalah sebuah dokumen penting yang mengubah nasib dan masa depan anak-anakku," ujar Tyas dalam rekaman tersebut.

Kebahagiaannya memuncak ketika mengetahui bahwa sang buah hati resmi menjadi warga negara Inggris. Namun, ungkapan kebahagiaan Tyas yang secara gamblang menyatakan bahwa dirinya memang mengupayakan status warga negara asing bagi anak-anaknya justru memicu polemik.

"Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu," tuturnya dalam video.

Kata “paspor kuat” dan frasa “cukup aku saja yang WNI” sontak menjadi pemantik kemarahan publik.

Apalagi, warganet mengetahui bahwa Tyas merupakan lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung angkatan 2009 yang melanjutkan studi S2 di Delft University of Technology (2015–2017) melalui pendanaan penuh LPDP yang bersumber dari dana pajak rakyat.

Kolom komentar media sosialnya pun diserbu kritik keras. Ia bahkan dijuluki “lintah pajak” dan dianggap mengkhianati bangsa yang telah membiayai pendidikannya.

"Di balik privilese LPDP yang kamu terima, ada guru-guru bergaji kecil. Malu-maluin kalau akhirnya cuma ngejelekin negara sendiri," tulis seorang netizen.

Tyas pun membalas sejumlah komentar tersebut.

"Bagian mana gue pake uang rakyat dan menguntungkan pribadi? Kalo ga ada bukti namanya fitnah. Udah gue data orang2 yang fitnah2 ini mau nama lo gue masukin juga?" jawabnya pada satu akun.

Pernyataan itu kembali memicu gelombang kritik baru. Warganet juga menyoroti bahwa sang suami menempuh pendidikan S2 hingga S3 dengan dana LPDP.

"Sampe kapanpun laki lu akan nafkahi kalian dari ilmu yg berhasil dia dpt dari duit negara ini ning. Jgn jd kacang lupa kulit," cibir lainnya.

Tak sedikit pula yang menyinggung aspek etika.

"Kamu dan keluarga berhak bahagia dengan pilihanmu mbak. Tapi bahagia gak perlu menginjak2 orang lain. Km kan pinter ya, coba diliat lagi videomu yg viral itu. Ada statement yg 'tidak pintar' gak? Pasti ada," ujar warganet lain.

Klarifikasi dan Kontribusi untuk Indonesia

Di tengah badai kritik, Tyas membuat unggahan panjang untuk meluruskan berbagai asumsi. Ia menegaskan bahwa dirinya masih WNI, begitu pula suami dan kedua anaknya. Anak keduanya memiliki hak dwikewarganegaraan karena lahir di Inggris dan sah secara hukum kedua negara.

"Yessss, saya masih bayar pajak di Indonesia seperti kalian semua 😁🙏🏻," tulisnya.

Tyas juga membeberkan sejumlah kontribusinya bagi Indonesia sejak lulus kuliah pada 2017, yakni selama sembilan tahun terakhir:

  1. Business Model Framework untuk pengembangan energi surya di Pulau Sumba yang diunduh gratis berbagai negara.

  2. Menciptakan lapangan kerja melalui bisnis lestari yang bekerja sama dengan petani, pengrajin, dan UMKM lokal.

  3. Solusi sampah plastik dan organik melalui gerakan #Kawankompos dan pelatihan gratis.

  4. Menanam lebih dari 10.000 pohon bakau di berbagai pesisir Indonesia.

  5. Membantu 200+ ibu rumah tangga berpenghasilan dari rumah.

  6. Menulis buku gaya hidup lestari untuk anak-anak dan dewasa.

  7. Donasi bencana dan pembangunan sekolah lestari di Nusa Tenggara Timur.

"Itu semua hal yang saya bangun & kerjakan sejak saya lulus kuliah (2017) hingga hari ini, yaitu selama 9 tahun. Masih jauh dari sempurna karena semua saya kerjakan dengan sumber daya, uang, tenaga dan segala keterbatasan yang saya miliki," pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, perdebatan di ruang publik masih terus bergulir. Sebagian masyarakat mengapresiasi kontribusi nyata yang dipaparkan Tyas, sementara sebagian lainnya tetap menyayangkan pernyataannya yang dinilai merendahkan identitas dan kebanggaan terhadap paspor Indonesia.

  • Alumni LPDP Sebut Paspor Indonesia Lemah
  • Dwi Sasetyaningtyas

Redaktur: Fitrya A Kusumah

Penulis: Fitrya A Kusumah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.