- Home
-
- Entertainment
-
- Review Wuthering Heights...
Review Wuthering Heights: Ketika Cinta Berubah Jadi Obsesi, Versi Tergelap yang Bikin Penonton Emosional
Rabu, 11 Feb 2026, 18:30 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Ada banyak adaptasi Wuthering Heights yang lahir sejak novel Emily Bronte terbit pada 1847. Namun versi 2026 garapan Emerald Fennell ini terasa seperti tamparan emosional yang tak terduga. Alih-alih menyajikan romansa klasik yang puitis dan sendu, film ini justru menyelam lebih dalam ke sisi paling gelap dari cinta, obsesi, luka batin, dan dendam yang diwariskan lintas waktu.
Dibintangi Margot Robbie sebagai Catherine Cathy Earnshaw dan Jacob Elordi sebagai Heathcliff, film berdurasi 136 menit ini menghadirkan dinamika hubungan yang panas sekaligus meresahkan. Sejak adegan pembuka, penonton langsung diseret ke atmosfer pedesaan Inggris yang suram, dingin, dan penuh tekanan sosial. Tidak ada kesan cinta remaja yang manis. Yang ada justru ketegangan emosional yang perlahan membara.
Kisahnya mengikuti perjalanan Heathcliff, anak yatim piatu yang diadopsi keluarga Earnshaw dan tumbuh bersama Cathy. Kedekatan mereka sejak kecil berkembang menjadi hubungan yang intens dan sulit didefinisikan. Namun perbedaan status sosial menjadi jurang yang tak mudah dijembatani. Saat Cathy memilih menikah demi stabilitas dan posisi sosial yang lebih tinggi, keputusan itu menjadi awal dari kehancuran segalanya.
Heathcliff yang terluka memilih pergi, membawa amarah yang mengendap. Ketika ia kembali bertahun-tahun kemudian, ia bukan lagi sosok yang sama. Dendam menjadi bahan bakar utama hidupnya. Film ini dengan berani menggambarkan bagaimana cinta yang tidak terselesaikan bisa berubah menjadi siklus kekerasan emosional yang merusak bukan hanya dua insan, tetapi seluruh lingkaran kehidupan mereka.
Secara visual, Emerald Fennell membungkus tragedi ini dalam estetika gothic yang memikat. Lanskap berkabut, pencahayaan redup, dan tata kostum yang sensual membuat setiap adegan terasa seperti lukisan kelam yang hidup. Namun keindahan visual itu kontras dengan isi ceritanya yang brutal secara psikologis.
Chemistry antara Robbie dan Elordi menjadi magnet utama film ini. Keduanya berhasil menampilkan hubungan yang penuh gairah, tetapi juga toxic. Tatapan, sentuhan, hingga dialog mereka dipenuhi ketegangan. Ini bukan kisah cinta yang membuat hati hangat, justru sebaliknya, penonton mungkin akan merasa lelah dan tidak nyaman mengikuti gejolak emosi mereka.
Meski begitu, justru di situlah kekuatan Wuthering Heights (2026). Film ini menolak menjadi romansa aman yang mudah dicerna. Ia memilih menjadi potret tentang ego, luka masa kecil, dan konsekuensi dari keputusan yang didorong ambisi. Hasilnya adalah drama gothic yang membekas lama setelah kredit akhir bergulir.
Dengan rating 17+ dan tema steamy romance, hierarki sosial, serta volatilitas psikologis yang intens, film produksi MRC, LuckyChap Entertainment, dan Warner Bros. Pictures ini jelas bukan tontonan ringan. Namun bagi pencinta drama romantis gelap yang kompleks, versi terbaru ini menawarkan pengalaman sinematik yang berani dan provokatif.
Pertanyaannya, siapkah Cantiks menyaksikan cinta yang indah, namun juga menghancurkan?
- wuthering heights
- Jacob Elordi
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.