Bukan Menghakimi, Ini Alasan Penting Korban Kekerasan Seksual Harus Dipercaya Terlebih Dulu
Selasa, 10 Feb 2026, 09:45 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Belakangan ini, pemberitaan mengenai kekerasan seksual semakin sering muncul ke permukaan, baik yang terjadi di dalam negeri maupun di luar negeri. Yang membuat publik terkejut, tidak sedikit terduga pelaku berasal dari kalangan berkuasa atau memiliki privilese tertentu, mulai dari status sosial tinggi, kekayaan, popularitas, hingga citra orang baik yang sudah lama melekat di mata masyarakat.
Tak bisa dimungkiri, menerima kenyataan seseorang yang selama ini dikagumi atau dipercaya ternyata diduga melakukan kekerasan seksual bukanlah hal mudah. Banyak dari kita secara refleks menolak fakta tersebut dengan berbagai pembenaran, rekam jejaknya baik, kariernya cemerlang, atau kepribadiannya terlihat ramah dan santun. Tanpa sadar, pembelaan ini justru sering kali menggeser fokus dari korban ke pelaku.
Di sisi lain, korban atau penyintas yang berani menyuarakan pengalaman mereka kerap menghadapi respons yang menyakitkan. Alih-alih mendapat empati, mereka justru diragukan, disangsikan, bahkan dicap sebagai pembohong. Ketika korban memilih anonim atau hanya menggunakan inisial, keberadaannya dianggap tidak nyata. Padahal, menjaga identitas adalah hak korban demi keselamatan dan kesehatan mentalnya.
Ironisnya, ketika identitas korban diketahui publik, latar belakang hidupnya sering dijadikan senjata untuk menyerang balik. Muncul pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan dan berulang, mengapa baru bicara sekarang, kenapa tidak melawan, sedang mabuk atau tidak, hingga komentar soal pakaian. Pertanyaan-pertanyaan ini begitu lazim hingga terasa normal, padahal sarat dengan budaya menyalahkan korban.
Ada satu kalimat yang kerap menjadi pengingat, lebih baik kita salah karena percaya korban, daripada salah karena tanpa sadar berpihak pada pelaku kekerasan seksual. Percaya di sini bukan berarti langsung menghakimi pelaku, melainkan memberi ruang aman bagi korban, tidak menyerang, tidak meremehkan, dan tidak menutup mata terhadap proses hukum yang berjalan.
Perlu dipahami speak up bukan perkara mudah. Bercerita tentang pengalaman kekerasan seksual membutuhkan keberanian luar biasa. Banyak korban sudah lebih dulu dihantui rasa takut, malu, dan menyalahkan diri sendiri bahkan sebelum orang lain melakukannya. Budaya normalisasi kekerasan seksual membuat banyak korban memilih diam, atau baru berani bicara bertahun-tahun kemudian.
Trauma yang dialami korban tidak berhenti saat kejadian berlangsung. Luka itu bisa mengikuti mereka ke mana pun pergi, setiap hari, setiap waktu, terlebih jika pelaku masih bebas dan tidak tersentuh hukum. Ketika korban kemudian ditolak, diragukan, atau diserang setelah speak up, trauma baru pun tercipta.
Kini, situasinya semakin kompleks dengan adanya doxxing dan perundungan digital. Korban dibongkar masa lalunya, disebarkan data pribadinya, bahkan diintimidasi orang-orang yang sama sekali tidak mengenalnya. Padahal, informasi tersebut sama sekali tidak relevan bagi publik.
Kekerasan seksual terjadi karena tindakan pelaku, bukan karena korban.
Selama fokus masih diarahkan pada kesalahan korban, siklus kekerasan akan terus berulang. Mempercayai korban terlebih dulu bukan soal emosi semata, tetapi langkah awal untuk menciptakan ruang yang lebih aman, manusiawi, dan berkeadilan bagi semua.
- kekerasan seksual
- korban kekerasan seksual
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.