AI Jadi ‘Model’ di Paris Couture Week 2026, Penggemar Haute Couture Kaget
Rabu, 04 Feb 2026, 07:30 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Paris Haute Couture Week 2026 tak hanya menampilkan adibusana dari label mewah yang dikurasi ketat oleh Fédération de la Haute Couture et de la Mode (FHCM), tetapi juga menjadi perayaan craftsmanship, tradisi, dan seni tingkat tinggi.
Pakaian handmade dengan pengerjaan tangan yang memakan waktu ratusan jam selama ini menjadi ciri khas utama pekan mode tersebut. Karena itu, keputusan salah satu rumah mode menggunakan artificial intelligence (AI) langsung memicu kritik.
Alexis Mabille Haute Couture Spring/Summer 2026 yang dipresentasikan pekan lalu menjadi sorotan karena menampilkan peragaan busana sepenuhnya virtual berbasis AI. Para tamu undangan tidak menyaksikan model berjalan di runway, melainkan duduk berhadapan dengan layar raksasa yang menampilkan koleksi dalam format dua dimensi.
Baik model maupun busana sepenuhnya ditampilkan secara digital, menghadirkan pengalaman yang sangat berbeda dari tradisi couture pada umumnya.
Peragaan Busana Haute Couture Buatan AI
Melalui Instagram pribadinya, Alexis Mabille menjelaskan bahwa koleksi ini merupakan eksplorasi teknologi dan inovasi untuk membuka wilayah kreativitas baru. Ia menegaskan bahwa proses kreatif tetap dimulai dari intuisi yang dituangkan dalam sketsa tangan, sebelum dilanjutkan ke medium virtual.
âSaya membuat sketsa siluet, lalu siluet itu terbentuk, dimodelkan, seperti halnya di atelier, di mana tangan membentuk dan menampakkan material, di mana volume menemukan keseimbangannya dan ketelitian menjadi emosi,â tulis Mabille.
Ia juga menekankan bahwa pemilihan material tetap mengacu pada bahan nyata seperti crepe, organza, silk, hingga ostritch feathers.
Melansir Fashion Network, proses pembuatan peragaan virtual ini memakan waktu sekitar lima bulan, dengan beberapa looks melalui hingga 300 kali pengujian. Mabille menyatakan bahwa AI justru digunakan untuk menegaskan pentingnya peran manusia.
âIdenya adalah untuk melawan arus dengan AI dan menunjukkan bahwa unsur manusia tetap penting di baliknya⦠tanpa ide-ide kita dan tangan para teknisi, tidak banyak yang terjadi,â ujarnya.
Teknologi ini memungkinkan klien melihat busana secara virtual sesuai ukuran tubuh dan fitur wajah mereka, sebelum akhirnya dibuat berdasarkan pesanan.
Picu Kontroversi
Meski dinilai efisien dan membuka cara kerja baru, pendekatan ini menuai kontroversi. Mabille mengaku metode tersebut membantunya mengeksplorasi material dan emosi dalam karya yang lebih terstruktur.
âIni adalah koleksi yang terkendali dan terstruktur⦠melalui pendekatan yang berbeda, yang lebih mekanis,â katanya.
Namun banyak pihak mempertanyakan apakah karya berbasis AI masih layak disebut haute couture. Publik menilai couture seharusnya menghadirkan karya nyata hasil pengerjaan tangan para pengrajin terbaik. Kekhawatiran akan pergeseran nilai inti couture pun mencuat, terlebih di tengah maraknya peran AI dalam industri kreatif.
Perdebatan ramai di kolom komentar Instagram @alexismabille. Salah satu warganet menulis, âHaute couture adalah puncak pembuatan pakaian⦠dapatkah sesuatu disebut couture tanpa tangan pengrajin?â
Sementara komentar lain menyebut, âAku tak pernah menyangka Haute Couture dipresentasikan menggunakan AI⦠untuk couture, rasanya tidak tepat.â
Peragaan ini pun menjadi salah satu momen paling kontroversial di Paris Haute Couture Week 2026, sekaligus memicu diskusi luas tentang masa depan adibusana di era kecerdasan buatan.
- AI Jadi Model
- Paris Couture Week 2026
Redaktur: Fitrya A Kusumah
Penulis: Fitrya A Kusumah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.