Siapa Jeffrey Epstein? Predator Seksual Paling Berbahaya di AS Kini Namanya Kembali Viral di X
Senin, 02 Feb 2026, 18:00 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Nama Jeffrey Epstein kembali menjadi perbincangan hangat di platform X setelah berbagai arsip, dokumen, dan diskusi lama soal jejaring kekuasaan kembali diangkat publik.
Sosoknya dikenal sebagai salah satu predator seksual paling berbahaya dalam sejarah Amerika Serikat, dengan kasus yang menyeret isu uang, kekuasaan, dan kegagalan sistem hukum.
Profil
Menurut laporan media internasional, Epstein lahir dan tumbuh besar di New York. Ia sempat mengenyam pendidikan di bidang fisika dan matematika di tingkat universitas. Meski dikenal memiliki kecerdasan akademik di atas rata-rata, perjalanan pendidikannya tidak pernah benar-benar rampung karena ia tidak menyelesaikan studinya hingga lulus.
Karier Epstein mulai berubah drastis pada awal 1980-an. Pada tahun 1982, ia mendirikan perusahaan manajemen keuangan bernama J Epstein and Co. Perusahaan ini dikenal sangat eksklusif dan hanya melayani klien kelas atas.
Dalam waktu relatif singkat, firma tersebut mengelola aset bernilai lebih dari 1 miliar dolar AS, menjadikan Epstein sebagai salah satu figur berpengaruh di dunia finansial elite.
Lonjakan kekayaan itu mengantarkannya pada gaya hidup supermewah. Epstein diketahui memiliki berbagai properti bernilai fantastis, mulai dari rumah besar di Florida, sebuah peternakan luas di New Mexico, hingga sebuah mansion di New York yang kerap disebut sebagai rumah pribadi terbesar di kota tersebut.
Kekayaannya juga membuka pintu ke lingkaran sosial kelas atas, mempertemukannya dengan selebritas, politisi, akademisi, hingga tokoh seni ternama.
Sisi Gelap Terkuak
Namun di balik citra tersebut, sisi gelap Epstein perlahan terkuak. Sejak 2008, ia secara resmi terdaftar sebagai pelaku kejahatan seksual tingkat tiga di negara bagian New York. Status ini bersifat permanen dan menandakan bahwa ia dianggap memiliki risiko tinggi untuk kembali melakukan tindak pidana serupa.
Meski telah divonis, Epstein tetap dapat mempertahankan sebagian besar harta dan asetnya, sesuatu yang kemudian menuai kritik luas.
Puncak kontroversi terjadi pada Agustus 2019, ketika Epstein ditemukan meninggal dunia di dalam sel tahanannya. Otoritas menyatakan kematiannya sebagai bunuh diri, namun penjelasan tersebut memicu gelombang keraguan publik.
Banyak pihak mempertanyakan pengawasan penjara serta kemungkinan adanya kepentingan hukum dan politik yang lebih besar di balik peristiwa tersebut.
Kasus Jeffrey Epstein meninggalkan luka mendalam bagi para korban sekaligus mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap sistem penegakan hukum. Skandal ini menjadi simbol bagaimana uang dan kekuasaan dapat memengaruhi keadilan, sekaligus mendorong tuntutan global untuk reformasi hukum, perlindungan korban yang lebih kuat, dan transparansi dalam penanganan kejahatan seksual berskala besar.***
- Jeffrey Epstein
Redaktur: Weti Aprianti
Penulis: Weti Aprianti
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.