Menanggapi hal itu, Roby Tremonti bereaksi keras melalui serangkaian unggahan di Instagram Story miliknya. Ia secara terbuka membantah asumsi publik yang mengaitkan dirinya dengan karakter âBobbyâ yang digambarkan negatif dalam buku tersebut.
Melalui akun Instagram pribadinya @robsut, Roby meluapkan emosinya dengan menyebut nama samaran âYulianti Wijayaâ atau âBuleli Marimasâ. Ia menilai bahwa narasi yang berkembang telah menggiring opini publik dan merugikan dirinya selama bertahun-tahun.
Roby menegaskan bahwa dirinya tidak akan tinggal diam menghadapi apa yang ia sebut sebagai serangan karakter. Ia menyatakan bahwa buku yang viral tersebut memang tidak mencantumkan namanya secara eksplisit, namun dampaknya sangat memengaruhi kehidupan pribadinya.
"Jujur saya agak terpengaruh ni, dah mau tidur eh muncul ide gila dikit. Terpengaruh tapi gak emosi yah, tapi mau bikin komedi satir," tulis Roby dalam unggahan Instagram Story yang diunggah Senin (12/1/2026).
Unggahan tersebut menunjukkan bahwa Roby merasa terganggu meskipun berusaha menampilkan sikap santai.
Lebih lanjut, Roby menawarkan versi cerita tandingan terkait sosok artis berdarah Jawa-Belgia yang ia sebut sebagai âYulianti Wijayaâ. Ia bahkan mengancam akan membuka drama lama yang menurutnya belum pernah selesai jika terus disudutkan.
Dalam rangkaian unggahan tersebut, Roby juga menyinggung soal intimidasi dan perundungan atau bullying yang ia rasakan. Ia mengklaim telah mengalami diskriminasi dan penilaian sepihak selama 16 tahun terakhir.


"Saya 16 tahun ini juga bisa dibilang korban pembullyan. Tapi sorry 'Yulianti Wijaya', saya punya mental. Saya dididik di zaman yang masih kalo kaset kusut saya masukin freezer," ungkap Roby.
Pernyataan ini ia gunakan untuk menegaskan bahwa dirinya memiliki ketahanan mental menghadapi tekanan publik.
Emosi Roby semakin memuncak ketika ia membahas dampak psikologis dari situasi tersebut. Ia secara terang-terangan menyatakan keinginannya untuk melakukan apa yang ia sebut sebagai âserangan psikologisâ balik.
"Karena saya tau ketika tulisan-tulisan ini mampir dikit aja ke kepala anda, saya sudah cukup puas. Kabar baiknya pasal serangan psikologis masih susah dibuktikan," tulis Roby. Unggahan ini menuai perhatian karena bernada ancaman meski disampaikan secara tersirat.
Tidak hanya berhenti pada serangan verbal, Roby juga mengeluarkan peringatan keras terkait penyebaran buku Broken Strings. Ia menyebut bahwa semakin banyak orang membaca buku tersebut, maka efek âbola saljuâ akan semakin besar dan berbalik menyerang sosok yang ia sebut âBuleli Marimasâ.
Roby bahkan mengutip istilah hukum kuno untuk menggambarkan prinsip balas dendam yang ia yakini. "Mata ganti mata, gigi ganti gigi," tulisnya.

Kemarahan Roby disebut semakin memuncak setelah ia mengklaim bahwa ibunya ikut terseret dalam konflik tersebut. Ia menilai bahwa ranah privasi keluarga telah dilanggar sehingga dirinya merasa tidak bisa lagi bersikap diam.
Di tengah kemarahannya, Roby sempat menyampaikan permintaan maaf kepada netizen dan para pengikut âBuleli Marimasâ. Ia mengaku harus bersikap tegas terhadap apa yang ia klaim sebagai perundungan tanpa dasar pengetahuan yang jelas dari penggemar fanatik.
Sebagai informasi, polemik ini bermula dari perilisan buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans pada Januari 2026. Buku tersebut menceritakan trauma masa lalu Aurelie akibat hubungan toxic dan dugaan child grooming oleh pria dewasa berinisial Bobby saat ia berusia 15 tahun.
Publik kemudian menduga bahwa sosok Bobby merujuk pada Roby Tremonti karena adanya hubungan di masa lalu. Dugaan tersebut memicu kemarahan warganet, termasuk seruan boikot terhadap Roby, yang kemudian dibalas sang aktor dengan klarifikasi keras dan ancaman balik di media sosial.