Melonjak, Investasi Energi Bersih Global Capai 37 Kuadrilium

Senin, 12 Jan 2026, 10:23 WIB

ABU DHABI- Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyatakan investasi energi bersih global kini mencapai dua kali lipat dari total belanja energi berbasis bahan bakar fosil.

“Investasi energi bersih global terus menunjukkan peningkatan signifikan dan diperkirakan menembus 2,2 triliun dollar AS atau sekitar 37 kuadriliun pada 2025,” katanya, saat berbicara di Sidang Majelis Umum ke-16, Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Minggu (11/1).

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Guterres menjelaskan, lonjakan investasi tersebut mencerminkan percepatan transisi energi global yang semakin menguat seiring komitmen negara-negara dalam menekan emisi gas rumah kaca.

Guterres mengingatkan bahwa konferensi iklim COP30 di Belém telah mengakui dunia akan menghadapi overshoot sementara di atas batas kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius.

“Tugas kita jelas: membuat overshoot itu sekecil dan sesingkat mungkin,” ujarnya.

Menurut dia, upaya tersebut menuntut pemangkasan emisi “lebih cepat, lebih dalam, dan di semua sektor,” termasuk melalui pengurangan penggunaan bahan bakar fosil, percepatan besar-besaran energi terbarukan, serta peningkatan efisiensi energi.

“Kabar baiknya, dunia tidak pernah berada dalam posisi sebaik sekarang untuk mewujudkannya,” kata Guterres.

Cetak Rekor Baru

Ia juga menambahkan bahwa teknologi energi terbarukan, khususnya tenaga surya dan angin terus mencetak rekor baru, sehingga transisi menuju energi bersih kini bersifat “tak terhentikan dan tidak dapat dibalikkan”.

Meski demikian, Guterres mengingatkan bahwa percepatan teknologi dan investasi pembangkit belum sepenuhnya diimbangi kesiapan infrastruktur pendukung. Pada tahun lalu, sebutnya, dunia mengalokasikan sekitar 1 triliun dollar AS untuk pembangunan pembangkit energi bersih, tetapi investasi untuk jaringan listrik dan infrastruktur penunjang jumlahnya masih kurang dari separuhnya.

Ia pun menyoroti sejumlah hambatan yang masih dihadapi, mulai dari lambatnya proses perizinan, keterbatasan kapasitas jaringan listrik, hingga tekanan pada rantai pasok global. Selain itu, banyak negara berkembang, khususnya di kawasan Afrika, dinilai masih kesulitan memperoleh akses pembiayaan meskipun memiliki potensi energi terbarukan yang besar.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Guterres mendorong investasi besar-besaran pada jaringan listrik modern dan fleksibel, penguatan interkoneksi regional, serta pengembangan sistem penyimpanan energi seperti baterai guna menjaga keandalan pasokan listrik.

Pengamat energi terbarukan dari Universitas Brawijaya, Malang, Suprapto, mengatakan, Indonesia seharusnya mengikuti tren dunia dengan membuka selebar-lebarnya pintu terhadap investasi energi bersih.

“Indonesia tidak boleh ketinggalan dengan tren peningkatan investasi untuk mewujudkan clean energy dengan membuka seluas-luasnya kran investasi EBT. Kalau tidak, apa yang ditakutkan dari dampak kenaikan suhu global sangat mungkin terjadi. Kalau AS menarik diri dari perjanjian iklim, targe zero carbon dunia tentu semakin berat,” kata Suprapto.

Saat diminta pendapatnya, Direktur eksekutif IESR, Fabby Tumiwa mengatakan, investasi energi terbarukan semakin meningkat dalam satu dekade terakhir, bahkan telah melampaui investasi energi fossil. “Ini menunjukkan minat investor global pada investasi energi terbarukan,”ungkap Fabby.

Kemudian, investasi energi bersih terbesar pada kendaraan listrik, pembangkit energi terbarukan, jaringan listrik dan penyimpan energi (energy storage).

⁠Walaupun terus meningkat investasi ini hanya sepertiga dari kebutuhan untuk mencapai target pembatasan emisi dari transisi energi global untuk membuat temperatur global tetap di bawah 2 derajat C.

“Dengan demikian, masih banyak ruang untuk memobilisasi investasi 3.5- 5 triliun dollar AS per tahun dari sekarang hingga 2050,” kata Fabby.

⁠Indonesia dan Asia Tenggara papar Fabby, sejauh ini belum jadi tujuan investasi energi bersih global. Sektor energi Indonesia masih memiliki berbagai hambatan sistemik yang membuat investor global enggan masuk ke Indonesia.

“Ini bisa terlihat target investasi energi terbarukan tidak pernah mencapai target yang dicanangkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM),”pungkasnya.ers/SB/E-9

  • pemanasan global

Redaktur: Diapari S

Penulis: Diapari S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.