Beredarnya video tersebut langsung memicu berbagai reaksi dari warganet di sejumlah platform media sosial. Banyak netizen mempertanyakan asal-usul kemasan infus tersebut serta menyoroti aspek keamanan penggunaannya untuk produk minuman yang dikonsumsi masyarakat.
Sebagian netizen juga meminta pihak kafe segera memberikan klarifikasi resmi terkait penggunaan kemasan infus medis tersebut. Permintaan ini muncul untuk memastikan bahwa kemasan yang digunakan bukan berasal dari limbah medis yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Kekhawatiran publik dinilai beralasan karena limbah medis termasuk dalam kategori Bahan Berbahaya dan Beracun yang pengelolaannya diatur secara ketat oleh pemerintah. Set infus bekas secara khusus masuk dalam limbah infeksius karena berpotensi terkontaminasi organisme patogen berbahaya.
Limbah medis seperti botol infus seharusnya melalui tahapan pengelolaan khusus sebelum dimusnahkan atau didaur ulang. Aturan menyebutkan limbah medis harus disimpan dalam kemasan tertutup maksimal dua hari sejak dihasilkan sebelum dimusnahkan menggunakan insinerator bersuhu minimal 800 derajat Celsius.
Penggunaan kemasan yang berasal dari limbah medis untuk produk pangan dinilai sangat berbahaya. Selain sulit terurai hingga ratusan tahun, limbah medis yang tidak dikelola dengan baik dapat mencemari air dan tanah serta menyebarkan penyakit seperti HIV serta hepatitis B dan C.
Menanggapi polemik tersebut, PT Otsuka Indonesia selaku produsen infus medis mengeluarkan pernyataan resmi. Perusahaan menegaskan bahwa produk minuman dengan kemasan infus yang beredar bukanlah produk yang mereka produksi atau edarkan.
PT Otsuka Indonesia juga menyampaikan adanya dugaan penyalahgunaan merek dan kemasan infus milik perusahaan. Pernyataan tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi @otsuka.indonesia pada Senin (5/1/2026).
Perusahaan menegaskan seluruh produk Otsuka diproduksi sesuai prinsip Good Manufacturing Practice dan standar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Penegasan ini sekaligus menepis keterlibatan Otsuka dalam produksi kemasan minuman matcha tersebut.
Pakar Kesehatan Ungkap 7 Alasan Bahaya Matcha Kemasan Infus
Seorang perawat bernama Rizal Do turut memberikan pandangan terkait fenomena ini melalui akun X @afrkml. Ia meminta pihak kedai menghentikan penjualan matcha dengan kemasan infus karena dinilai berisiko bagi kesehatan.
Rizal menyoroti adanya label obat keras pada kemasan infus yang dinilai tidak sesuai untuk produk pangan. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius terkait keamanan konsumsi oleh masyarakat umum.
Pencantuman nama PT Otsuka pada kemasan menimbulkan keraguan apakah kemasan tersebut baru atau berasal dari limbah medis. Kondisi ini dinilai berpotensi menyesatkan konsumen.
Penggunaan kemasan infus untuk minuman konsumsi dinilai memiliki risiko kesehatan yang tinggi. Kemasan tersebut tidak dirancang untuk penggunaan makanan dan minuman.
Jika kemasan dibeli baru, muncul pertanyaan tentang penggunaan cairan di dalamnya serta rasio pencampuran dengan matcha. Ketidakseimbangan elektrolit dinilai dapat membahayakan tubuh.
Kemasan infus tidak memiliki standar food grade karena dibuat khusus untuk cairan medis. Hal ini membuat keamanannya untuk minuman tidak dapat dipastikan.
Kemasan tersebut juga tidak melalui uji kelayakan untuk cairan konsumsi. Risiko migrasi bahan kimia plastik ke dalam minuman menjadi perhatian utama.
Praktik ini dinilai berpotensi menurunkan kewaspadaan masyarakat terhadap penggunaan alat medis. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menimbulkan normalisasi penyalahgunaan alat kesehatan.
Bahaya Konsumsi Matcha Berlebihan
Di luar persoalan kemasan, konsumsi matcha sendiri perlu dilakukan secara bijak. Meski memiliki manfaat kesehatan, konsumsi berlebihan dapat menimbulkan gangguan pada tubuh.
Kandungan tanin dalam matcha dapat mengiritasi lambung dan memicu mual, muntah, diare, hingga nyeri perut. Risiko ini meningkat jika matcha dikonsumsi saat perut kosong.
Tanin juga diketahui dapat menghambat penyerapan zat besi dan mineral penting dalam tubuh. Kondisi ini berpotensi memengaruhi kesehatan bila terjadi dalam jangka panjang.
Batas aman konsumsi matcha disarankan sekitar dua hingga tiga cangkir per hari. Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan gangguan lambung akibat kandungan kafeinnya.
Matcha mengandung kafein antara 70 hingga 140 miligram per sajian yang hampir setara dengan kopi. Kafein berlebih dapat mengganggu pola tidur dan menimbulkan rasa gelisah.
Bagi individu yang sensitif terhadap kafein, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Kondisi ini juga dapat memicu jantung berdebar dan rasa tidak nyaman.
Matcha tetap aman dikonsumsi selama berada dalam batas wajar dan menggunakan kemasan sesuai standar pangan. Pemilihan produk yang aman serta pemahaman risiko menjadi kunci menjaga kesehatan.