Kenapa Subclade K Dijuluki Super Flu? Ini Penjelasan Ahli Epidemiologi

Jum'at, 02 Jan 2026, 16:30 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Istilah Super Flu belakangan ramai dibicarakan seiring munculnya Subclade K, turunan dari virus Influenza A (H3N2) yang mulai terdeteksi di Indonesia. Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Menurut para ahli, varian ini memiliki karakteristik yang membuatnya lebih mudah menyebar dan berdampak lebih berat dibandingkan flu musiman pada umumnya.

Ahli Epidemiologi dari Griffith University Australia, dr Dicky Budiman, menjelaskan secara biologis, virus influenza memang dikenal cepat bermutasi. Dari berbagai tipe influenza A, H3N2 termasuk yang cenderung lebih agresif dalam menginfeksi manusia dibandingkan H1N1.

“Pada influenza A ada H1N1 dan H3N2. Nah, H3N2 ini secara historis memang lebih sering menimbulkan infeksi yang lebih berat pada manusia,” ujar dr Dicky saat dihubungi, Jumat (2/1/2026).

Menyebar Lebih Cepat dari Siklus Normal

Ket. Foto: Ilustrasi wanita flu. — Sumber: Freepik

Julukan Super Flu pada Subclade K juga berkaitan dengan kecepatan penyebarannya. Menurut dr Dicky, varian ini dapat memicu wabah lebih cepat sekitar satu hingga dua bulan dibandingkan pola influenza pada umumnya.

Biasanya, influenza merebak pada musim dingin. Di belahan bumi utara, musim dingin dimulai sekitar akhir Oktober, sementara di belahan selatan terjadi perbedaan musim.

“Yang unik, Subclade K ini sudah mulai mewabah bahkan sebelum musim dingin tiba. Inilah yang membuatnya menjadi fenomena baru dan mendapat perhatian global,” jelasnya.

Artinya, virus ini mampu menginfeksi masyarakat lebih awal dari siklus musiman yang lazim, sehingga potensi lonjakan kasus terjadi lebih cepat.

Gejala Lebih Terasa dan Mengganggu Aktivitas

Alasan lain Subclade K disebut Super Flu adalah karena gejalanya cenderung lebih berat dan nyata dirasakan oleh penderitanya.

“Sederhananya, gejalanya memang sedikit lebih parah dibandingkan flu biasa,” kata dr Dicky.

Keluhan yang muncul bisa berupa flu berat, batuk lebih lama dengan dahak yang banyak, nyeri saat menelan, hingga penurunan kondisi fisik yang cukup signifikan. Risiko gejala berat terutama dialami oleh kelompok rentan, seperti lansia dan anak di bawah lima tahun.

Situasi Global dan di Indonesia

Secara global, Subclade K dilaporkan telah menginfeksi lebih dari tiga juta orang, dengan ratusan ribu kasus mengalami kondisi parah. Meski demikian, tingkat kematian akibat varian ini masih tidak separah COVID-19 pada awal pandemi.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI mencatat 62 kasus Subclade K sejak Agustus 2025. Jawa Timur menjadi wilayah dengan kasus terbanyak (23 kasus), disusul Kalimantan Selatan (18 kasus).

Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr Prima Yosephine, menegaskan pentingnya langkah pencegahan, terutama bagi kelompok berisiko.

“Vaksin influenza tetap efektif untuk mencegah sakit berat, rawat inap, dan kematian,” ujarnya.

Imbauan untuk Masyarakat

Kemenkes mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta rutin mendapatkan vaksin influenza tahunan.

Selain itu, masyarakat diminta tetap di rumah saat mengalami gejala flu, menggunakan masker, menerapkan etika batuk, dan segera mencari pertolongan medis jika gejala memburuk atau tidak membaik dalam lebih dari tiga hari.

Dengan kewaspadaan dan pencegahan yang tepat, risiko dampak Subclade K dapat ditekan tanpa kepanikan berlebihan.

  • Kesehatan
  • Subclade K

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.