Karena itu, penting bagi orangtua memahami bahwa kebiasaan Ayah, baik yang disadari maupun tidak, dapat membentuk karakter anak laki-laki di masa depan. Ini lima kebiasaan Ayah yang tanpa sadar dapat memengaruhi kepribadian anak laki-laki kelak nanti.
1. Hanya mencari nafkah, bukan menjadi Ayah yang benar-benar âhadirâ
Banyak Ayah yang sepulang kerja merasa energinya habis, lalu memilih rebahan, menonton TV, atau bermain ponsel. Tanpa disadari, hal ini mengajarkan anak laki-laki bahwa tugas Ayah hanya sebatas menyediakan uang, sementara urusan pengasuhan dianggap sebagai tanggung jawab Ibu semata.
Padahal, anak laki-laki sangat membutuhkan kehadiran fisik dan emosional dari Ayah. Ia perlu melihat bahwa menjadi seorang Ayah dan suami bukan sekadar mencari nafkah, tetapi ikut terlibat dalam kehidupan keluarga.
Kehadiran Ayah yang penuh perhatian dan partisipasi justru menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang karakter anak.
2. Pasif dan tak membela kebenaran
Ketika terjadi konflik, memilih diam demi menghindari masalah justru bisa memberikan contoh yang kurang tepat. Misalnya, saat anak melihat Ayah tidak membela Ibu atau keluarga ketika dirugikan. Momen seperti ini akan terekam dalam memori mereka.
Anak laki-laki perlu belajar bahwa keberanian seorang pria terlihat dari bagaimana ia berdiri membela kebenaran dan melindungi keluarganya, bahkan dalam situasi sulit. Sikap ini akan menjadi nilai moral yang terbawa hingga ia dewasa.
3. Hanya menjadi penonton dalam urusan ibadah
Meminta anak untuk salat atau mengaji, sementara Ayah sendiri tidak melakukannya, adalah sikap yang kontradiktif. Kepemimpinan spiritual dalam keluarga seharusnya datang dari Ayah terlebih dahulu.
Ketika Ayah aktif mengajak, memimpin, dan menjadi teladan dalam beribadah, anak laki-laki akan memahami bahwa tanggung jawab sebagai imam keluarga dimulai dari keteladanan, bukan sekadar perintah.
4. Memerlihatkan emosi yang tak terkendali
Meluapkan kemarahan di rumah karena stres pekerjaan atau mudah terpancing emosi akibat hal sepele menjadi pelajaran langsung bagi anak tentang cara mengatasi masalah. Sayangnya, ini adalah contoh yang keliru.
Anak laki-laki perlu belajar bahwa pria bukanlah seseorang yang tidak punya emosi, melainkan seseorang yang mampu mengelola dan mengekspresikan emosinya dengan cara yang sehat dan konstruktif.
5. Memberikan prioritas pada gadget
Ketika momen kebersamaan terganggu oleh notifikasi pekerjaan atau kebiasaan scroll media sosial, anak dapat merasa tidak lebih penting daripada sebuah layar. Rasa diabaikan ini bisa membuatnya mencari perhatian di tempat lain.
Orangtua perlu menghadirkan diri sepenuhnya, baik secara mental maupun fisik. Menonaktifkan ponsel sejenak dan memberikan perhatian penuh menjadi langkah kecil namun sangat berarti.
Momen bersama anak tidak akan datang dua kali, sehingga penting bagi Papa dan Mama untuk memanfaatkannya sebaik mungkin.
Dengan menyadari kebiasaan-kebiasaan ini dan berusaha memperbaikinya, Ayah dapat menjadi panutan yang lebih baik dan membantu membentuk karakter anak laki-laki menjadi pribadi yang kuat, penuh tanggung jawab, dan berakhlak baik.