Kisah Kelam Farida Nurhan Pernah Dibully Saat di Sekolah, Sosok Guru Ikut Terlibat

Minggu, 30 Nov 2025, 17:00 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Kesuksesan dan ketegaran yang melekat pada sosok Farida Nurhan hari ini ternyata dibangun dari luka masa lalu yang tidak sedikit orang tahu.

Di balik senyum ceria dan kepercayaan diri yang kerap ia tunjukkan di media sosial, tersimpan kisah pahit yang menjadi bagian penting perjalanan hidupnya.

Ket. Foto: Farida Nurhan mengaku pernah dibully — Sumber: Instagram/@farida.nurhan

Baru-baru ini, Farida Nurhan membuka pengalaman kelamnya saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, masa ketika harga diri dan mentalnya diuji secara bertubi-tubi.

Alami Perundungan Selama 3 Tahun

Farida mengaku mengalami perundungan selama tiga tahun penuh. Semua dimulai sejak hari-hari pertama ia masuk SMP. Dua siswa laki-laki yang merupakan teman dekat sejak SD dan kembali sekelas di SMP, mulai memanggilnya dengan sebutan “Monyong”.

Mereka mengejek penampilan dan merendahkan latar belakang ekonomi keluarganya. Farida kecil hanya bisa menahan perasaan. Ia tidak membalas, tidak melawan, hanya berpura-pura cuek meskipun hatinya sangat terluka.

Ejekan itu menyebar sangat cepat. Karena kedua anak laki-laki tersebut dikenal nakal dan cukup populer, sebutan itu dengan mudah menjalar ke kelas lain, kakak kelas, bahkan para guru ikut memanggilnya dengan julukan yang sama.

Teman dan Guru Merundung

20251130145520_Screenshot_85.jpg

Farida semakin bingung dan hancur karena tidak hanya murid, tetapi seluruh sekolah, mengamini panggilan tersebut. Di dalam kelas pun, para guru memanggilnya dengan panggilan “Monyong”, seolah identitas dirinya lenyap dan digantikan ejekan itu.

Meski begitu, ia tetap berusaha kuat. Setiap hari Farida memaksakan diri untuk tampil seolah tidak terganggu. Ia mengikuti kegiatan sekolah, berteman dengan siapa saja, dan menunjukkan semangat belajar walau dalam hati ia hanya ingin cepat-cepat lulus dan meninggalkan tempat yang begitu menyakitkan.

Baginya, sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk bertahan agar tidak runtuh secara emosional.

Alasan Perundungan

Setelah dua tahun terkungkung dalam rasa malu dan kecewa, ia memberanikan diri bertanya langsung kepada dua anak tersebut. Mengapa hanya ia yang menjadi target? Jawaban mereka menyayat hati, karena Farida masuk dalam 10 besar siswa dengan nilai tertinggi dari 131 murid yang diterima.

Sedangkan mereka, yang orang tuanya berasal dari keluarga lebih berada, tidak termasuk 10 besar. Mereka merendahkannya karena iri terhadap prestasinya dan mempermalukannya karena Farida hanya anak pedagang mobil-mobilan plastik di pasar.

Selama tiga tahun penuh Farida memendam rasa sedih, marah, dan malu, tanpa bisa melakukan apa-apa. Namun justru dari masa kelam itu, ia tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan penuh empati.

Di akhir pengakuannya, Farida menegaskan pesan yang sangat penting, “Please banget kalau ada di antara kalian yang menyematkan nama ejekan kepada siapapun untuk dihentikan.”***

  • Farida Nurhan Dibully

Redaktur: Weti Aprianti

Penulis: Weti Aprianti

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.