Dalam unggahan-unggahan yang beredar, para kreator mengklaim bahwa darah menstruasi memiliki manfaat regeneratif yang dapat mencerahkan kulit, memperbaiki tekstur wajah, hingga merangsang peremajaan alami.
Klaim tersebut kemudian memicu perdebatan luas di kalangan warganet dan pemerhati kesehatan karena dianggap tidak lazim dan sama sekali belum didukung penelitian medis.
Para pendukung menstrual masking meyakini bahwa darah menstruasi mengandung stem cell, sitokin, dan komponen biologis lain yang dianggap mampu memicu proses peremajaan kulit.
Mereka juga menyamakan tren ini dengan prosedur vampire facial atau PRP (platelet-rich plasma) yang memang terbukti memiliki efek regeneratif pada kulit.
Namun, dilansir dari NDTV, para ahli menegaskan bahwa kesamaan tersebut hanya sepintas saja. Meski benar bahwa darah menstruasi mengandung sel dan protein tertentu, penggunaannya secara langsung pada wajah tanpa proses sterilisasi memiliki risiko kesehatan yang cukup serius.
Tidak seperti PRP yang melewati proses medis steril dan dilakukan oleh tenaga profesional, menstrual masking dilakukan secara mandiri di rumah tanpa prosedur higienis yang memadai.
Ahli kulit memperingatkan bahwa darah menstruasi dapat mengandung bakteri, termasuk Staphylococcus aureus, yang apabila masuk ke pori-pori kulit atau luka kecil dapat memicu infeksi. Risiko ini menjadi lebih tinggi bagi individu yang memiliki kulit sensitif atau rentan mengalami iritasi.
Selain itu, hingga saat ini tidak ada standar medis atau pedoman resmi yang mengatur praktik menstrual masking. Tidak ada panduan mengenai jumlah darah yang seharusnya digunakan, durasi pemakaian, atau frekuensi yang dianggap aman.
Ketidakjelasan ini membuat tren tersebut berpotensi menimbulkan dampak buruk, terutama jika dilakukan tanpa pertimbangan risiko.
Para ahli juga menyoroti perbedaan besar antara menstrual masking dan perawatan PRP profesional. Dalam prosedur PRP, darah pasien diambil lalu diproses menggunakan alat medis steril untuk memisahkan plasma kaya platelet.
Proses ini dilakukan mengikuti protokol ketat yang bertujuan meminimalkan kontaminasi. Sementara itu, menstrual masking dilakukan tanpa sterilisasi dan tanpa supervisi tenaga kesehatan.
Hingga kini, para ahli menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung manfaat kecantikan dari penggunaan darah menstruasi pada wajah. Mereka mengingatkan bahwa infeksi kulit dapat berdampak jangka panjang dan memerlukan perawatan medis serius.
Masyarakat pun diimbau untuk mempertimbangkan ulang sebelum mengikuti tren ini, terutama jika tidak memahami risiko kesehatannya.
Fenomena menstrual masking menjadi contoh lain betapa cepatnya tren kecantikan yang ekstrem menyebar di media sosial, meski belum tentu aman atau terbukti secara medis.