Tidak cukup hanya mengajarkan anak agar tidak menjadi pelaku, orangtua khususnya Mama dan Papa juga perlu membentuk pribadi anak agar lebih percaya diri.Â
Langkah ini bukan bertujuan membuat anak menjadi âjagoanâ, melainkan agar mereka mampu berbicara dengan jelas, memahami siapa diri mereka, dan tidak mudah dijadikan target pelaku perundungan.
Berikut 5 kebiasaan penting yang dinilai efektif membantu mencegah anak menjadi korban bullying:
-
Postur tubuh untuk menunjukkan keyakinan
Anak perlu diajarkan berdiri tegak, kepala lurus, bahu ke belakang, dan menatap mata lawan bicara. Postur percaya diri seperti ini mengirimkan sinyal kuat bahwa mereka bukan target yang mudah.
Bahasa tubuh merupakan aspek paling pertama yang dinilai orang lain. Anak yang membungkuk atau menghindari kontak mata cenderung terlihat lemah sehingga lebih rentan menjadi sasaran pelaku perundungan.
2ï¸. Kontrol nada bicara agar lugas dan tegas
Nada suara tenang dan mantap menciptakan kesan percaya diri. Anak dengan kemampuan mengatur nada suara lebih mudah membuat pelaku mundur, dibanding anak yang berbicara dengan panik atau berteriak.
Kemampuan ini dapat dibentuk sejak di rumah. Lingkungan keluarga yang hangat, mendukung, dan terbiasa mengungkapkan perasaan akan menjadi contoh perilaku positif bagi anak dalam berinteraksi secara sosial.
3ï¸. Bangun kepercayaan diri nyata
Kepercayaan diri tidak hanya berasal dari kata-kata motivasi. Anak perlu dilatih menghadapi tantangan kecil setiap hari, seperti berbicara di depan kelas atau mencoba aktivitas baru. Anak yang percaya diri memahami nilai dirinya sendiri.
Orangtua berperan penting membangun keterampilan diri positif, seperti harga diri sehat, citra diri baik, dan nilai diri kuat. Semua ini mendorong anak merasa cukup dan mampu berdiri di atas kaki sendiri ketika harus membela diri.
4ï¸. Ajari kesadaran dan pencegahan sejak dini
Anak perlu memiliki kemampuan membaca situasi: siapa teman yang mendukung, lingkungan apa yang aman, dan tanda-tanda awal munculnya bullying. Kesadaran akan situasi sosial ini membantu mereka menghindari reaksi panik ketika menghadapi kondisi sulit.
Pendidikan keterampilan sosial seperti empati, kerja sama, dan resolusi konflik juga penting diajarkan. Dengan memahami dinamika sosial, anak lebih mampu melindungi diri dari potensi perundungan.
5ï¸. Bantu anak memiliki sifat asertif, bukan agresif
Banyak korban bullying menunjukkan reaksi agresif sebagai tameng diri, sementara sebagian lainnya menjadi pasif dan menarik diri dari lingkungan sosial. Karena itu, anak perlu belajar membangun komunikasi asertif baik dengan teman sebaya maupun orang dewasa.
Kemampuan mengatakan âtidakâ dengan jelas tanpa menyerang atau bersikap kasar lebih efektif menghadapi konflik dibanding agresi fisik atau verbal. Sikap asertif membuat anak dihargai tanpa harus bertindak keras.
Anak tidak perlu menjadi yang terkuat di lingkungannya. Mereka hanya perlu mengenal diri, memiliki keberanian berbicara, dan membangun kebiasaan positif dalam menghadapi dunia. Pola bullying umumnya berulang, dan pola ini sebenarnya bisa dikenali serta dicegah melalui lima kebiasaan sederhana yang bisa diajarkan sejak dini.
Dengan bimbingan tepat, anak dapat terhindar dari perundungan dan tumbuh sebagai pribadi yang kuat serta mandiri.