Didorong Stimulus Fiskal, Ekonomi Indonesia Tumbuh Lebih Tinggi pada Q4-2025

Jum'at, 14 Nov 2025, 10:31 WIB

JAKARTA- Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 diperkirakan lebih tinggi ketimbang realisasi pada kuartal III-2025 yang tumbuh 5,04 persen, kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan, dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Rabu (12/11),

Perry mengatakan, proyeksi itu didasari pada program stimulus fiskal yang sudah banyak digelontorlan Pemerintah pada akhir tahun, seperti yang termuat dalam paket stimulus ekonomi senilai 46,23 triliun rupiah.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Stimulus fiskal yang telah digelontorkan itu terdiri dari paket stimulus ekonomi 8+4+5 yang telah dirancang senilai 16,23 triliun rupiah, ditambah dengan paket stimulus ekonomi tambahan senilai 30 triliun rupiah.

Selain itu, pemerintah juga masih konsisten menjalnkan berbagai proyek-proyek program prioritas untuk terus memacu ekonomi sesuai target keseluruhan tahun ini di level 5,2 persen.

Sepanjang tahun ini, Perry memperkirakan, ekonomi Indonesia akan bertengger di kisaran 5,1 persen atau di titik tengah dari proyeksi 4,7-5,5 persen.

Menanggapi pernyataan bank sentral, pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo, menilai proyeksi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengenai meningkatnya pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025 sangat mungkin tercapai.

Menurutnya, pola percepatan belanja pemerintah daerah menjelang akhir tahun kembali terjadi dan menjadi salah satu penopang utama aktivitas ekonomi di berbagai sektor.

Sebelumnya, Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 diperkirakan akan lebih tinggi daripada realisasi kuartal III-2025 yang tumbuh 5,04 persen. Proyeksi itu didasarkan pada program stimulus fiskal pemerintah, termasuk paket stimulus ekonomi senilai 46,23 triliun rupiah yang digelontorkan pada penghujung tahun.

Sri Susilo menjelaskan bahwa peningkatan penyerapan anggaran pemerintah daerah menjelang tutup tahun sudah terlihat nyata di lapangan. “Bagaimanapun, Pemda akan menggenjot penyerapan anggaran di akhir tahun ini. Buktinya, pembangunan infrastruktur di daerah tampak lebih padat di akhir-akhir tahun ini, baik gorong-gorong maupun perbaikan jalan,”ujarnya.

Selain proyek fisik, aktivitas pemerintah juga meningkat signifikan di sektor non-infrastruktur. Berbagai acara yang digelar Pemda maupun Kementerian terlihat lebih sering berlangsung pada triwulan terakhir. Kegiatan-kegiatan tersebut mendorong belanja barang dan jasa serta memperkuat perputaran ekonomi lokal.

Dengan kombinasi percepatan belanja pemerintah daerah dan stimulus fiskal pusat, Sri Susilo menilai kuartal IV-2025 memiliki peluang besar untuk menutup tahun dengan catatan pertumbuhan yang lebih kuat.

“Lonjakan kegiatan ini biasanya membawa multiplier effect yang cepat pada sektor-sektor pendukung, sehingga proyeksi BI sangat masuk akal,” katanya.

Tantangan ke depan adalah menjaga konsistensi belanja pemerintah agar tidak menumpuk di akhir tahun. Ia menekankan pentingnya pemerataan realisasi anggaran sepanjang tahun untuk menjaga momentum pertumbuhan yang lebih stabil.

Faktor Musiman

Sementara itu, pengamat Kebijakan Publik Fitra, Badiul Hadi, mengatakan jika melihat tren selama ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung meningkat pada kuartal akhir tahun karena beberapa faktor musiman, termasuk peningkatan konsumsi menjelang akhir tahun dan realisasi belanja pemerintah yang lebih tinggi.

Program stimulus itu kemungkinan besar difokuskan pada sektor-sektor yang memiliki efek pengganda tinggi terhadap pertumbuhan, seperti belanja infrastruktur, subsidi konsumsi, dan insentif untuk sektor usaha kecil menengah (UMKM). Dengan pendekatan di atas stimulus itu berpotensi meningkatkan permintaan domestik, menciptakan lapangan kerja tambahan, dan mendorong konsumsi rumah tangga.

Dengan catatan, efektivitas stimulus fiskal sangat bergantung pada kecepatan realisasinya dan respons sektor swasta terhadap insentif yang diberikan. “Jika implementasi stimulus berjalan lambat atau terjadi kebocoran dalam penyaluran, dampaknya terhadap pertumbuhan kuartal IV akan lebih terbatas,”papar Badiul.

Kondisi eksternal seperti volatilitas harga komoditas, ketegangan geopolitik, atau tren suku bunga global bisa mempengaruhi proyeksi tersebut, misalnya kenaikan suku bunga global dapat menekan aliran investasi asing ke Indonesia dan memengaruhi nilai tukar rupiah.

Secara keseluruhan, proyeksi Bank Indonesia (BI) realistis dalam konteks musiman dan dorongan fiskal, tetapi keberhasilan kuartal IV sangat tergantung pada eksekusi stimulus dan kondisi ekonomi global. BI kemungkinan akan menyeimbangkan dukungan pertumbuhan dengan menjaga stabilitas harga dan nilai tukar.

“Hemat saya, penting fokus prioritaskan program yang langsung menyentuh rumah tangga berpendapatan menengah ke bawah, misal subsidi tepat sasaran dan bantuan UMKM, sehingga dampak ekonomi lebih merata,”pungkas Badiul.

  • pertumbuhan ekonomi

Redaktur: Diapari S

Penulis: Diapari S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.