Kisah Marsinah: Tragisnya Pejuang Buruh Asal Jawa Timur, Berujung Penculikan dan Pembunuhan, Kini Diberi Gelar Pahlawan Nasional

Senin, 10 Nov 2025, 09:15 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Pada 8 Mei 1993, seorang buruh perempuan bernama Marsinah ditemukan tewas dalam keadaan mengenaskan, tergeletak di sebuah gubuk terpencil di hutan Desa Jegong, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Tubuh Marsinah dipenuhi luka dan bersimbah darah, pertanda bahwa sebelum kematiannya ia mengalami penyiksaan dan kekerasan. Kisah Marsinah pun bukan sekadar tragedi individual, melainkan sinyal penting bahwa suara pekerja perempuan mulai tak bisa dibungkam begitu saja.

Ket. Foto: Marsinah. — Sumber: Istimewa

Marsinah, yang lahir pada 10 April 1969 di Desa Nglundo, Sukomoro, Nganjuk, tumbuh dalam kondisi penuh tantangan, ibunya meninggal saat ia masih tiga tahun. Meski demikian, semangatnya kuat.

Ia merantau ke Surabaya pada 1989, bekerja di pabrik plastik, lalu kemudian di pabrik arloji PT Catur Putra Surya (CPS) di Porong, Sidoarjo. Di sana, ia aktif dalam organisasi buruh unit kerja SPSI, vokal menyuarakan kondisi pekerja yang tak kunjung membaik.

Awal Mei 1993 menjadi titik kritis. Pabrik CPS menghadapi mogok buruh yang dipimpin Marsinah dan rekan-rekan, mereka menuntut kenaikan upah sesuai keputusan Menteri Tenaga Kerja, pembayaran lembur yang adil, jaminan kesehatan, hak cuti haid, dan hak-hak kerja lainnya.

Usaha mereka membuahkan hasil, sebelas dari dua belas tuntutan dipenuhi. Namun, suasana meredam bukan berarti aman, malah sebaliknya.

Pada hari berikutnya, 13 buruh diundang ke markas Kodim 0816 Sidoarjo dan didesak menyerahkan pengunduran diri. Mereka memprotes pemecatan yang dianggap tak adil, dan akhirnya dipaksa menandatangani formulir yang menanyakan detail tentang identitas, keluarga, pendidikan hingga sikap terhadap PKI, sebuah bentuk intimidasi militer yang mengerikan.

Melihat kondisi tersebut, Marsinah turun tangan. Ia menulis surat dukungan bagi buruh yang diintimidasi dan berikrar akan membawa kasus tersebut ke Kejaksaan Surabaya jika tak diselesaikan secara baik.

Namun malam itu juga, setelah jam 22.00 WIB, Marsinah menghilang. Keesokan harinya, jenazahnya ditemukan, menandakan hidupnya direnggut dalam bisu dan darah, di sebuah gubuk di Nganjuk.

Penanganan kasusnya pun penuh luka, pemeriksaan awal terhadap 142 orang, penculikan delapan orang yang diduga pelaku oleh satuan intelijen, siksaan berat hingga pengakuan paksa, termasuk terhadap pemilik perusahaan CPS, Yudi Susanto.

Ia semula divonis 17 tahun, staf lain antara 4 sampai 12 tahun, namun belakangan semua naik banding dan dibebaskan oleh Mahkamah Agung. Kasusnya pun masih menggantung, menjadi noda besar dalam catatan pelanggaran HAM Indonesia.

Kini, nama Marsinah kembali mencuat. Pada peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2025, Presiden Prabowo Subianto secara terbuka mendukung pengusulan Marsinah menjadi pahlawan nasional dari kaum buruh.

“Asal seluruh pimpinan buruh mewakili kaum buruh, saya akan mendukung Marsinah jadi Pahlawan Nasional,” tegasnya.

Namun prosesnya tak semulus dukungan. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengungkapkan bahwa untuk tahun 2025 belum memungkinkan, karena pengusulan harus melalui tingkat daerah, provinsi, dan pusat secara berjenjang.

Lebih dari sekadar upacara atau gelar, perjuangan Marsinah memanggil kita menilik kondisi buruh hari ini: sistem outsourcing, kontrak kerja jangka pendek, intimidasi terhadap demonstrasi, semua itu masih relevan dengan yang ia lawan saat itu.

Organisasi seperti Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menegaskan bahwa pengusulan gelar pahlawan tak boleh menghapus esensi, pembelaan hak pekerja, kebebasan berserikat, dan penghapusan kekerasan dalam relasi kerja.

Dengan demikian, kisah Marsinah bukan hanya tentang kematian tragis seorang aktivis, melainkan sebuah simbol perjuangan yang belum selesai, yang terus menantang kita untuk menjawab: Apakah bangsa ini benar-benar menghargai pahlawannya yang berjuang dari barisan paling bawah?

  • Prabowo
  • pahlawan nasional

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.