Berat Badan Balita Naik Tak Normal? Waspada Fenomena Weight Faltering yang Bisa Ganggu Masa Depan Anak!

Jum'at, 07 Nov 2025, 17:45 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Pertumbuhan balita memang sering jadi kebanggaan orang tua. Tiap bulan berat badannya naik, artinya anak sehat, begitu pikir kebanyakan orang. 

Tapi, hati-hati! Jika kenaikannya lebih lambat dari standar usianya, bisa jadi itu pertanda bahaya tersembunyi yang disebut weight faltering. 

Ket. Foto: Ilustrasi balita sedang makan. — Sumber: Freepik

Meski tampak sepele, kondisi ini bisa mengancam masa depan anak jika dibiarkan terlalu lama.

Apa Itu Weight Faltering?

Banyak yang salah kaprah mengira weight faltering berarti anak tak naik berat badan sama sekali. Padahal, yang terjadi adalah kenaikan berat badan yang sangat lambat dan tidak sesuai dengan usia. 

Secara kasat mata anak bisa terlihat sehat dan aktif, tetapi grafik pertumbuhan menunjukkan hal sebaliknya.

Menurut National Institute for Health and Care Excellence (NICE, 2017), weight faltering terjadi ketika berat badan anak turun di bawah garis centile tertentu atau laju kenaikannya melambat dari standar pertumbuhan normal. 

Ini berbeda dari failure to thrive, yang biasanya menunjukkan kondisi malnutrisi berat.

Penelitian di jurnal Archives of Disease in Childhood (Wright et al., 2020) mengungkap bahwa weight faltering sering muncul pada masa transisi dari ASI atau MPASI ke makanan keluarga. 

Jika tidak segera diatasi, efeknya bukan hanya fisik, tapi juga menghambat perkembangan otak dan kemampuan kognitif anak.

Dampak Serius yang Sering Diremehkan

Banyak orang tua menyepelekan weight faltering karena anak tetap tampak aktif. 

Namun, riset di Semarang berjudul Risk Factor of Growth Faltering in Infants Aged 2–12 Months membuktikan bahwa bayi yang mengalami growth faltering berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan jangka panjang:

Pertumbuhan fisik dan mental melambat

Gangguan daya tahan tubuh

Masalah belajar dan konsentrasi

Risiko infeksi dan kematian lebih tinggi di tahun-tahun awal kehidupan

Studi lain di Asia Tenggara berjudul Parental Concern of Feeding Difficulty Predicts Poor Growth Status in Their Child juga menemukan hubungan erat antara picky eating dan pertumbuhan lambat. 

Jadi, jika anak susah makan atau hanya mau makanan tertentu, jangan anggap remeh, itu bisa jadi awal dari weight faltering!

Cara Mengatasinya, Fokus pada Nutrisi Tepat

Kunci utama mengatasi weight faltering adalah intervensi nutrisi sejak dini. Anak yang pertumbuhan berat badannya melambat umumnya kekurangan protein dan mikronutrien penting.

Riset menunjukkan bahwa protein hewani seperti telur, ikan, daging, dan susu jauh lebih efektif membantu catch-up growth dibanding protein nabati.

Penelitian Daily Consumption of Growing-Up Milk is Associated with Less Stunting among Indonesian Toddlers bahkan menemukan bahwa balita yang rutin minum susu tumbuh minimal 300 ml per hari memiliki risiko lebih rendah mengalami stunting.

Karena itu, pemantauan rutin kurva pertumbuhan WHO setiap 1–3 bulan sangat penting. 

Jika terdeteksi lebih awal, weight faltering masih bisa diperbaiki dan anak berpeluang besar kembali tumbuh optimal, baik secara fisik maupun kognitif.

Jangan cepat puas hanya karena berat badan anak naik. Perhatikan apakah kenaikannya sesuai dengan standar usia! 

  • tumbuh kembang anak
  • weight faltering

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.