Proyek Whoosh Bukan Semata Mencari Keuntungan Finansial

Kamis, 30 Okt 2025, 09:29 WIB

JAKARTA- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membenarkanmantan Presiden Joko Widodo yang menyebut proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) bukan semata untuk mencari keuntungan finansial, meski manfaat pengembangan kawasan belum sepenuhnya terasa.

“Ada betulnya, karena kan Whoosh sebetulnya ada misi regional development juga,” kata Purbaya, Rabu (29/10).

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Agar tujuan itu tercapai, katanya, pengembangan ekonomi di sekitar jalur kereta cepat perlu diperkuat. “Mungkin di mana ada pemberhentian di sekitar jalur Whoosh supaya ekonomi sekitar tumbuh itu harus dikembangkan ke depan.

Menanggapi pernyataan Menkeu, Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI) menilai keberadaan kereta cepat Whoosh bukan sekadar proyek infrastruktur transportasi, melainkan investasi jangka panjang yang berdampak pada ekonomi, sosial, dan bahkan budaya bangsa.

Menurut Iyuk, pembangunan Whoosh menjadi simbol koneksitas dan efisiensi ekonomi baru di Indonesia. Whoosh juga dianggap sebagai momentum lahirnya peradaban baru, khususnya di bidang transportasi darat.

Dengan waktu tempuh Jakarta-Bandung yang kini hanya sekitar 40 menit, tingkat produktivitas dan mobilitas pelaku ekonomi meningkat signifikan. “Waktu adalah aset ekonomi yang selama ini terbuang di jalan. Whoosh mengubahnyamenjadi nilai tambah dengan memberikan jaminan ketepatan waktu, kenyamanan, dan komitmen dalam mendukung ekonomi hijau, ujarnya di Jakarta, Rabu (29/10).

Ia menambahkan, infrastruktur semacam itu menciptakan koridor ekonomi baru yang menghubungkan dua pusat pertumbuhan, menstimulan tumbuhnya pusat-pusat ekonomi di wilayah yang terlewati, mempercepat arus logistik, memperluas pasar tenaga kerja, dan meningkatkan nilai kawasan di sekitar stasiun.

“Setiap kilometer jalur Whoosh bukan sekadar investasi baja dan beton, tapi investasi dalam hal sumber daya manusia itu sendiri,” katanya.

Dari sisi sosial, keberadaan Whoosh dianggap mampu membentuk kebiasaan baru masyarakat dalam mobilitas publik. Transportasi modern yang cepat, bersih, dan teratur mendorong tumbuhnya budaya disiplin, menghargai waktu, serta tanggung jawab bersama dalam menjaga ruang publik.

“Transportasi membentuk perilaku. Dari cara orang antre, datang tepat waktu, sampai menghormati fasilitas umum, itu semua bagian dari pendidikan sosial,” katanya.

Sementara dari sisi budaya, MEPI menilai Whoosh menjadi penanda lahirnya budaya baru dan menjadi karakteristik negara maju di Indonesia.

“Transportasi adalah wujud paling konkret dari peradaban. Dengan Whoosh, masyarakat mulai percaya bahwa Indonesia memang mampu memiliki budaya modern yang tertib, efisien, dan berkarakter,” katanya.

Menurut dia, kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari teknologinya, tetapi dari cara masyarakat memperlakukan teknologi tersebut. Siapa yang menghargai waktu dan ruang publiknya, dialah bangsa yang sedang menapaki peradaban maju.

Jadi Komoditas Politik

Dia juga mengingatkan bahwa keberhasilan Whoosh harus dipisahkan dari isu politik jangka pendek. Kalau memang dalam prosesnya ada indikasi penyimpangan atau tindak korupsi, tentu harus diselidiki dan ditindaklanjuti sesuai aturan hukum yang berlaku. Sama halnya dengan kasus-kasus yang terjadi saat pembangunan tol layang MBZ, beberapa ruas jalur kereta api di Sumatera, dan temuan proyek infrastruktur lainnya.

“Jangan dijadikan komoditas politik melulu dengan mencari-cari sisi lemah, seperti aspek untung rugi, yang sejatinya adalah hal lumrah bahwa proyek infrastruktur dimanapun juga tentu akan merugi secara finansial jangka pendek, dan bahkan baru akan balik modal manakala mampu dikembangkan hingga mencapai skala ekonomi tertentu.

Keadilan publik adalah memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan untuk pembangunan tersebut dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk alokasi yang semestinya, terus dikembangkan hingga segenap lapisan masyarakat bisa menikmatinya, dan terjaminnya partisipasi masyarakat dalam hal insiiatif dan pengawasan ,” katanya.

Pembangunan infrastruktur besar seperti Whoosh memerlukan pandangan yang adil dan proporsional.

“Jangan sampai energi bangsa habis untuk saling mencurigai. Yang perlu kita jaga adalah agar proyek-proyek modern seperti ini menjadi contoh bahwa Indonesia bisa maju dengan cara yang benar, solid bersatu dan beradab,” pungkasnya.

Sementara itu, pengamat Kebijakan Publik Fitra, Badiul Hadi, mengatakan dirinya melihat ada dua dimensi yang perlu dilihat dan diperhatikan, terutama oleh masyarakat, yaitu efek sosialekonomi dan tata kelola keuangan publik.

Secara faktual, whoosh memang menimbulkan efek berganda (multiplier effect). Terbukanya akses transportasi cepat di koridor Jakarta-Bandung dapat mempercepat mobilitas tenaga kerja, mendorong pertumbuhan sektor jasa, serta memperkuat konektivitas wilayah sekitar seperti Karawang dan Purwakarta.

  • pengembangan ekonomi

Redaktur: Diapari S

Penulis: Diapari S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.