Kunjungan Bersejarah ke Vatikan, Ratu Camilla Kenakan Bros Warisan Ratu Elizabeth II Bernilai Fantastis

Minggu, 26 Okt 2025, 14:30 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Raja Charles III dan Ratu Camilla kembali melakukan kunjungan bersejarah ke Vatikan pada Kamis, 23 Oktober 2025. Kunjungan ini menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya dalam lebih dari 500 tahun, seorang raja Inggris berdoa bersama Paus di depan umum sejak reformasi gereja pada abad ke-16. Dalam kesempatan itu, Raja Charles dan Ratu Camilla bertemu dengan Paus Leo XIV, penerus mendiang Paus Fransiskus.

Ket. Foto: Penampilan Ratu Camilla saat kunjungan ke Vatikan — Sumber: Instagram/theroyalfamily

Sebelumnya, keduanya sempat berkunjung singkat ke Vatikan pada 10 April 2025, ketika Paus Fransiskus masih hidup. Kali ini, momen doa bersama di Kapel Sistina menjadi simbol rekonsiliasi antara Gereja Katolik dan Gereja Anglikan yang telah terpisah sejak masa Raja Henry VIII.

Ratu Camilla Tampil Anggun dan Penuh Makna

Dikutip dari InStyle, Sabtu (25/10/2025), Ratu Camilla tampil elegan dalam balutan gaun sutra hitam karya Fiona Clare dan mengenakan mantilla hitam rancangan Philip Treacy. Penampilannya semakin istimewa dengan dua aksesori bersejarah yang memiliki makna mendalam bagi kerajaan Inggris.

Pertama, bros berbentuk salib Georgia yang bertatahkan topas dan berlian, milik mendiang Ratu Elizabeth II. Menurut The Daily Express, bros tersebut bernilai sekitar USD 53 ribu atau setara Rp881 juta.

Ratu Elizabeth II diketahui tidak pernah mengenakan bros tersebut di depan umum, namun Camilla sering memakainya sebagai penghormatan kepada mendiang ratu.

Selain itu, Camilla juga mengenakan kalung mutiara bergaya Edwardian yang memiliki kaitan romantis dengan Raja Charles III. Kalung tersebut sebelumnya ia kenakan dalam potret ulang tahun pernikahannya yang ke-14 bersama Charles pada 2019 dan juga pada acara Royal Ascot 2016 serta pembukaan parlemen 2022.

Ratu Camilla Tak Punya Hak Istimewa

Keputusan Camilla mengenakan pakaian hitam menjadi perhatian publik karena mengikuti protokol tradisional saat bertemu Paus. Dalam tradisi Katolik, perempuan yang menemui Paus diwajibkan mengenakan gaun hitam sederhana dengan mantilla hitam.

Namun, ada beberapa perempuan bangsawan Katolik yang diberikan hak istimewa bernama le privilège du blanc atau “hak istimewa orang kulit putih”, yang mengizinkan mereka memakai pakaian putih saat audiensi dengan Paus.

Menurut Hello Magazine, hanya tujuh wanita kerajaan yang memiliki hak ini, seperti Ratu Letizia dari Spanyol, Putri Charlene dari Monako, Ratu Mathilde dari Belgia, Grand Duchess Stephanie dan Maria Teresa dari Luksemburg, serta dua mantan ratu, Ratu Paolo dan Ratu Sofia dari Spanyol. Ratu Camilla tidak termasuk dalam daftar tersebut.

Kunjungan Bersejarah Raja Charles III dan Ratu Camilla ke Vatikan

Mengutip BBC yang dilansir Liputan6 Global, kebaktian bersejarah itu digelar di bawah langit-langit Kapel Sistina yang megah, dihiasi fresco karya Michelangelo. Di tempat inilah Paus Leo XIV, paus pertama asal Amerika Serikat terpilih pada Mei 2025 untuk memimpin 1,4 miliar umat Katolik di dunia.

Momen doa bersama ini dianggap sebagai langkah simbolis menuju rekonsiliasi dua gereja besar dunia. Namun, kunjungan ini juga berlangsung di tengah masa sensitif bagi Raja Charles, setelah adiknya, Pangeran Andrew, setuju untuk melepaskan gelar Duke of York karena kontroversi hubungannya dengan mendiang Jeffrey Epstein.

Raja Charles Dikritik Kalangan Gereja Inggris

Meski disambut hangat oleh banyak pihak, kebaktian lintas denominasi itu juga menuai kritik. Kyle Paisley, pendeta Gereja Presbiterian Merdeka dari Irlandia Utara sekaligus putra mendiang politikus Ian Paisley senior, menyatakan kepada BBC bahwa Raja Charles seharusnya turun takhta jika benar berdoa bersama Paus.

Menurutnya, tindakan tersebut bisa melanggar sumpah raja untuk menegakkan iman Protestan.

“Iman Protestan secara teologis benar-benar berbeda dari Katolik. Saya tidak mengerti bagaimana dia bisa terlibat dalam bentuk ibadah bersama seperti itu,” ujarnya seperti dikutip The Guardian.

Lembaga Independent Loyal Orange Institution, organisasi Protestan konservatif di Irlandia Utara, juga menyampaikan keprihatinan terhadap langkah sang raja.

Meski begitu, bagi banyak pihak, momen ini tetap dilihat sebagai jembatan perdamaian dan simbol keterbukaan baru dalam sejarah panjang monarki Inggris.

  • Bros Warisan Ratu Elizabeth II
  • Kunjungan Kerajaan Inggris ke Vatikan

Redaktur: Fitrya A Kusumah

Penulis: Fitrya A Kusumah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.