Kasidit Teerawiboosin (22), seorang reseller asal Thailand, mengaku awalnya mampu meraup keuntungan besar dari penjualan Labubu. Namun, kini ia mulai merasakan dampak dari anjloknya harga pasar.
âHarga resale di pasar Thailand sudah turun sangat, sangat cepat,â ujar Teerawiboosin, yang sejak 2024 rutin membeli Labubu langsung dari Pop Mart untuk dijual kembali, dikutip dari Reuters.
Popularitas Labubu tak lepas dari peran sejumlah selebriti dunia yang mempopulerkannya. Nama-nama besar seperti Lisa BLACKPINK, Rihanna, hingga David Beckham diketahui pernah terlihat membawa boneka tersebut sebagai aksesori tas mereka. Sejak saat itu, Labubu menjadi incaran penggemar di berbagai negara, membuat stoknya langka dan harganya melonjak tinggi.
Namun, masa kejayaan itu kini tampak mulai meredup. Data dari platform resale mainan asal China, Qiandao, menunjukkan bahwa harga karakter Labubu âLuckâ yang sempat menembus lebih dari 500 yuan pada Juni 2025 kini anjlok ke kisaran 108 yuan. Bahkan, beberapa karakter lain dalam seri yang sama kini dijual di bawah harga resmi Pop Mart.
Para pengamat pasar menilai penurunan harga ini beriringan dengan turunnya saham Pop Mart sekitar 25% sejak Agustus lalu. Kendati demikian, perusahaan menegaskan bahwa penyebab utama bukanlah menurunnya minat pembeli, melainkan lonjakan pasokan yang drastis.
Pop Mart diketahui telah meningkatkan produksi Labubu hingga 10 kali lipat tahun ini, dengan total sekitar 30 juta unit mainan per bulan. Langkah ini disebut sebagai strategi perusahaan untuk mengimbangi tingginya permintaan yang terjadi pada awal tahun.
âFenomena ini mirip seperti tiket konser,â jelas Sid Si, Direktur Eksekutif sekaligus Co-COO Pop Mart, dalam wawancara bersama Reuters.
âBedanya, kami bisa meningkatkan pasokan secara aktif untuk mengurangi tekanan permintaan.â
Menurut analis Morningstar, Jeff Zhang, penurunan harga jual kembali Labubu bisa diartikan sebagai tanda bahwa permintaan sudah mulai terpenuhi, sementara pasokan terus meningkat.
âPenjual kembali kemungkinan menyumbang porsi besar dalam penjualan pasar perdana,â ujarnya.
Dengan harga yang terus merosot dan produksi yang kian melimpah, masa depan Labubu kini menjadi tanda tanya besar bagi para kolektor dan pelaku pasar mainan. Apakah tren boneka monster imut ini akan bangkit kembali, atau justru berakhir sebagai fenomena sesaat dalam dunia koleksi global?