Dalam kegiatan yang digelar di Balai Kampung Gedungbandar Rahayu tersebut, hadir sejumlah pejabat daerah dan tokoh masyarakat, antara lain Camat Gedungmeneng Andi Irawan, Kepala Kampung Bandargedung Rahayu Robet Mahardika, Kepala Kampung Gedungtapa Ilir Yudi Saputra, serta unsur Forum Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) setempat.
Petinggi SGC, Purwati Lee, yang akrab disapa Ibu Lee, menjelaskan bahwa program kemitraan tebu ini bertujuan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah Tulangbawang, Tulangbawang Barat, dan Lampung Tengah. Menurutnya, banyak warga di daerah tersebut mengalami kesulitan ekonomi akibat anjloknya harga singkong dalam beberapa tahun terakhir.
âDengan harga singkong yang terpuruk, kami berusaha membantu rakyat Lampung yang selama ini menanam singkong atau tanaman lainnya untuk beralih menanam tebu. Saya berharap tebu menjadi masa depan petani,â ujar Purwati Lee dalam sambutannya.
Ia menambahkan, menanam tebu sebenarnya tidak sulit selama dirawat dengan penuh keseriusan dan ketelatenan. Ibu Lee bahkan mengibaratkan merawat tebu seperti memelihara istri cantik harus dijaga, diperhatikan, dan tidak boleh ditinggalkan begitu saja.
âKalau sering ditinggal, bisa diambil orang. Menanam tebu perlu TLC, tender loving care. Kalau singkong bisa ditanam lalu ditinggal, tebu tidak bisa,â tambahnya sambil tersenyum.
Sementara itu, perwakilan SGC Sulis Prapto menyebutkan bahwa pihaknya akan terus melanjutkan program sosialisasi ini di berbagai wilayah. âMinimal dalam seminggu ada dua titik sosialisasi, tidak hanya di Tulangbawang, tapi juga di kabupaten-kabupaten lain di Provinsi Lampung,â jelasnya.
Kegiatan sosialisasi di Kampung Gedungbandar Rahayu disambut antusias oleh para petani. Mereka datang tidak hanya dari wilayah sekitar, tetapi juga dari kecamatan lain seperti Denteteladas.
Salah satu peserta, Arifin Daud (65), warga Bratasena, Kecamatan Denteteladas, bahkan langsung mendaftarkan diri untuk ikut program kemitraan setelah acara berakhir. Ia menyiapkan 6 hektare lahan miliknya untuk ditanami tebu bersama SGC.
âSaya langsung daftar karena harga yang ditawarkan dalam kemitraan ini sangat menarik. Pasti hasilnya menyenangkan,â ujarnya.
Arifin mengungkapkan, lahan tersebut sebelumnya ditanami sawit, namun habis terbakar. Ia juga sempat menanam singkong, tetapi hasilnya terus menurun karena harga yang tidak stabil.
âSaya berharap dengan ikut kemitraan tebu ini, hasilnya bisa mengangkat perekonomian dan kesejahteraan makin meningkat,â katanya optimistis.
Program kemitraan tebu SGC ini diharapkan menjadi solusi berkelanjutan bagi para petani Lampung yang terdampak fluktuasi harga tanaman pangan lain, sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi daerah berbasis agribisnis tebu.