Dituding Eksploitasi Santri, Gus Miftah Angkat Suara: Kyai Gak Pernah Nyuruh, Itu Inisiatif Santri!

Kamis, 16 Okt 2025, 07:30 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Beberapa tradisi di pondok pesantren tengah menjadi perbincangan publik, salah satunya terkait kebiasaan para santri yang ikut membantu membangun gedung di lingkungan pesantren.

Ket. Foto: Gus Miftah angkat suara mengenai eksploitasi saran — Sumber: Tangkapan Layar

Bagi sebagian orang awam di luar dunia pesantren, tradisi tersebut menuai kritik keras. Mereka menilai praktik melibatkan santri dalam pembangunan tanpa bayaran dianggap tidak manusiawi, bahkan disebut sebagai bentuk eksploitasi.

Menanggapi tudingan tersebut, pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, Gus Miftah, akhirnya angkat bicara. Dalam sebuah ceramahnya yang viral di media sosial, ia memberikan penjelasan tegas sekaligus menolak keras anggapan bahwa pesantren memanfaatkan santri sebagai pekerja bangunan.

“Saya malu sekarang ada ungkapan, Kyai-nya naik Pajero, Bu Nyainya naik Alphard, santrinya disuruh nguli. Itu bahasa orang yang nggak pernah mondok,” ucap Gus Miftah dengan nada kesal.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa saat ini pembangunan di lingkungan pesantren sudah diserahkan kepada tukang profesional.

“Di pondok pesantren stop nguli, sekarang semua bangunan serahkan pada tukang,” tambahnya.

Meski begitu, Gus Miftah menjelaskan bahwa tradisi para santri yang ikut bekerja di lingkungan pondok bukanlah bentuk kerja paksa, melainkan wujud dari ‘ngalap berkah’ atau tabarukan, yakni mencari keberkahan dari aktivitas membantu pesantren.

“Orang yang pernah mondok tidak akan pernah bilang itu nguli. Ro’an itu bukan nguli, tapi tabarukan, ngalap berkah,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa para santri melakukan kegiatan tersebut atas dasar kemauan sendiri, bukan perintah dari pihak pesantren.

“Kyai tidak pernah mewajibkan, tapi itu inisiatif dari santri,” beber Gus Miftah.

Menurutnya, orang-orang yang menilai tradisi kerja bakti di pesantren sebagai eksploitasi hanyalah mereka yang tidak memahami kultur dan nilai-nilai kehidupan pesantren.

“Jadi orang yang bilang kerja bakti di pondok adalah nguli, saya pastikan orang itu tidak pernah mondok. Karena beda antara nguli dengan ro’an,” tegasnya lagi.

Di akhir ceramahnya, Gus Miftah meminta agar publik berhenti melontarkan komentar negatif terhadap tradisi pesantren.

“Makanya orang-orang yang nggak pernah mondok nggak usah komentar,” ucapnya menutup penjelasan.

Namun, pernyataannya tetap menuai pro dan kontra di dunia maya. Beberapa warganet menilai argumen Gus Miftah masuk akal, namun ada pula yang membagikan pengalaman pribadi saat mondok yang berbeda dengan pernyataannya.

“Gue pernah mondok tad!! Tapi nggak disuruh NGULI!!!! Ro’an-nya cuma nyapu kamar dan halaman, karena itu bagian dari kemandirian dan independen. Selebihnya ngaji dan sekolah. Dan kiai gue saat itu nggak pake Pajero tapi Kijang lawas. Kiai sekarang mobil sport semua,” tulis seorang netizen.

Ada pula yang membandingkan dengan lembaga pendidikan Islam lain.

“Muhammadiyah dong, mondok, tapi nggak disuruh jadi kuli, full belajar. Keren Muhammadiyah,” ujar warganet lain.

“Muhammadiyah sama ahlussunnah nggak ada tuh disuruh jadi kuli, secinta-cintanya para sahabat kepada Baginda Rasulullah, kayaknya nggak pernah denger ceritanya bantu-bantu bersih-bersih rumah nabi. Tapi ada ponpes yang di hari libur nyuruh santri-santri bersih-bersih rumah kiai. Cmiiw,” tulis komentar lainnya.

Polemik ini pun masih terus bergulir di media sosial, menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara masyarakat umum dan kalangan pesantren soal makna di balik tradisi ro’an di lingkungan pondok.

  • Gus Miftah
  • Eksploitasi Santri

Redaktur: Fitrya A Kusumah

Penulis: Fitrya A Kusumah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.