Dalam episode tersebut, program âXpose Uncensoredâ menyoroti kehidupan di lingkungan pesantren dengan cara yang dianggap menyesatkan dan provokatif.
Salah satu bagian yang memicu kemarahan publik adalah narasi yang menyebut tradisi pemberian amplop kepada kiai disertai dengan visual santri bersalaman sambil menunduk hingga jongkok.
Narator dalam tayangan itu menyampaikan, âKan ternyata yang ngesot itulah yang kasih amplop. Netizen pun curiga nih bahwa bisa jadi inilah sebabnya sebagian kiai makin kaya raya.â
Tak berhenti di situ, narasi tersebut berlanjut dengan kalimat yang dinilai semakin melecehkan,âPadahal kan harusnya kalau kaya raya mah, umatnya yang dikasih duit ya nggak sih? Tapi ya gimana ya, dengan ngasih amal pada kiai kan diharapkan bisa dapat berkah.â
Meskipun Trans7 tidak menyebutkan nama pesantren atau sosok kiai secara langsung, masyarakat pesantren menganggap tayangan itu mengarah pada Ponpes Lirboyo. Dalam waktu singkat, video itu memicu reaksi keras dari para kiai, santri, dan alumni pesantren.
Dalam video pernyataan sikap yang beredar di media sosial, perwakilan pesantren dengan tegas menyampaikan kecaman terhadap Trans7.
âMengecam pihak TV Trans7 yang menayangkan tayangan yang meremehkan kiai, meremehkan santri, dan meremehkan pesantren, khususnya pesantren Lirboyo yang menjadi obyek dari tayangan tersebut,â ujar perwakilan pesantren dalam pernyataan resmi.
Mereka juga menuntut agar Trans7 segera meminta maaf secara terbuka serta menarik tayangan tersebut dari semua platform.
âTiga, meminta kepada Trans7 untuk menarik tayangan tersebut dari semua platform media yang terkait dengan Trans7,â lanjutnya.
Lebih jauh, pihak pesantren menyatakan siap menempuh jalur hukum jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
âJika tuntutan tidak dipenuhi oleh Trans7, maka akan melangkah menuntut secara jalur hukum, baik pidana maupun perdata,â tegas perwakilan pesantren.
Menanggapi hal ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) turut bersuara dan meminta Trans7 segera melakukan klarifikasi serta meminta maaf langsung ke pihak pesantren.
Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niâam Sholeh, menilai langkah tabayyun dan silaturahim langsung harus segera dilakukan agar polemik tidak berlarut.
âHarus segera datang silaturahim ke Lirboyo. Kemudiaan tabayyun, minta maaf langsung, karena ini terkait hak adami, biar segera tuntas,â ujar Asrorun melalui keterangan resmi pada Selasa (14/10/2025).
Ia juga menekankan pentingnya media menjaga etika dalam pemberitaan. âIsi siaran seharusnya menjunjung tinggi penghormatan terhadap lembaga dan tokoh agama. Bukan sebaliknya, melecehkan, apalagi menghina dan merendahkan,â tuturnya.
Selain meminta penarikan tayangan tersebut, MUI mengingatkan agar media televisi dan sosial mengikuti pedoman fatwa bermuamalah di media agar tidak menimbulkan fitnah.
Akibat kontroversi ini, tagar #BOIKOTTRANS7 menjadi trending di platform X (Twitter). Ribuan warganet menuntut stasiun televisi itu bertanggung jawab atas tayangan yang dianggap membangun citra negatif terhadap pesantren dan ulama.