NATO Berencana Beli Rudal Tomahawk AS buat Ukraina

Selasa, 30 Sep 2025, 10:40 WIB

WASHINGTON- Gedung Putih sedang mempertimbangkan sebuah rencana bagi sekutu NATO Eropa untuk membeli rudal jelajah Tomahawk buatan AS dan mengirimkannya ke Ukraina, ungkap Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance pada Minggu (28/9).

“Namun demikian, keputusan akhir tetap ada di tangan Presiden AS Donald Trump,” katanya.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

“Saya tahu bahwa sedang ada pembicaraan saat ini juga terkait isu tersebut,” kata Vance di Fox News seperti dikutip dari Antara.

“Kami sedang mempertimbangkannya, Kami tentu saja melihat sejumlah permintaan dari pihak Eropa,” Vance menambahkan.

Ketika ditanya apakah dia secara pribadi merasa nyaman dengan Ukraina yang menerima rudal Tomahawk dan ancaman yang akan ditimbulkannya, Vance mulai menghindari pertanyaan tersebut dengan mengatakan bahwa Trump akan membuat "keputusan akhir ... mengenai apa yang terbaik bagi AS.

Menurut beberapa outlet media AS, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengusulkan kesepakatan tersebut dalam pertemuannya dengan Trump di sela-sela Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pekan lalu. Dia mengatakan Trump memberi tahunya bahwa “kami akan mengusahakannya”.

Vance menekankan bahwa pemerintahan Trump mengadopsi sebuah pergeseran kebijakan yang lebih luas yang menekan Eropa untuk menanggung lebih banyak beban. “Kami tidak lagi hanya memberikan banyak dana dan senjata. Yang kami lakukan adalah meminta Eropa untuk membeli persenjataan itu,” katanya.

Sementara itu, dia mengimbau Russia untuk kembali duduk di meja perundingan dan benar-benar membahas perdamaian dengan serius.

Tomahawk merupakan rudal jelajah serangan darat subsonik jarak jauh buatan AS yang memiliki jangkauan operasional 460-2.500 km, tergantung pada variannya.

Jangkauan itu memungkinkan serangan ke area-area di dekat Moskow jika rudal itu dikerahkan dari beberapa wilayah di Eropa.

Belum Ada Sinyal

Sementara itu, Kremlin menyatakan belum ada sinyal dari Kiev terkait kemungkinan dilanjutkannya kembali perundingan antara delegasi Russia dan Ukraina untuk mengakhiri konflik.

“Tidak, sejauh ini belum ada sinyal sama sekali dari Kiev,” ujar Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada RIA Novosti saat ditanya mengenai peluang dilanjutkannya perundingan kedua negara.

Putaran ketiga perundingan antara delegasi Russia dan Ukraina berlangsung di Istanbul pada 23 Juli. Kedua pihak saat itu sepakat melanjutkan pertukaran medis tanpa batas waktu bagi personel yang sakit maupun terluka parah.

Russia juga mengusulkan agar Ukraina membentuk kelompok kerja yang membahas isu politik, kemanusiaan, dan militer secara daring.

Kepala delegasi Russia sekaligus penasihat Kremlin, Vladimir Medinsky, menyebut pihak Ukraina saat itu memilih mempertimbangkan usulan tersebut. Namun pada September, Moskow mengakui adanya jeda dalam proses perundingan.

Russia berulang kali menegaskan tetap terbuka untuk pembicaraan damai. Peskov menilai sikap pasif Ukraina kemungkinan merupakan upaya menunjukkan kepada sponsor dan pendukung Eropa bahwa Kiev siap terus melanjutkan pertempuran

  • perang Rusia-Ukraina

Redaktur: Diapari S

Penulis: Diapari S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.