Indonesia Harus Mampu Optimalkan Peluang Perdagangan Tanpa Tarif
Selasa, 30 Sep 2025, 10:06 WIBJAKARTA- Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan barang-barang yang terkena tarif tinggi dari Amerika Serikat (AS), bisa dialihkan pengirimannya ke Uni Eopa dan Kanada, seperti furnitur, baja, hingga tekstil. âAda pasar alternatif selain AS,â kata Huda, Senin (29/9).
Menurut dia, di era proteksionisme seperti saat ini, semua peluang harus dioptimalkan, terutama jika ada perjanjian perdagangan tanpa tarif, termasuk nol tarif ke Uni Eropa (UE) dan Kanada.
Pada kesempatan lain, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut pelaku usaha dipastikan mendapat tarif 0 persen untuk melakukan ekspor ke Uni Eropa dan Kanada setelah penandatanganan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA).
Budi menyampaikan tarif 0 persen tersebut langsung tertera pada Surat Keterangan Asal (SKA) atau dokumen sertifikasi. Eksportir asal Indonesia juga tidak perlu mengurus secara manual, lantaran sudah otomatis masuk ke dalam sistem.
âSKA preferensi itu nanti otomatis. Jadi ketika bapak/ibu mau ekspor baja ke Kanada, itu tidak ada pilihan lain. By sistem, jadi kita yang akan mengubah sistem, pokoknya tahunya dapat tarif yang paling rendah,â kata Mendag di Jakarta, Senin (29/9).
Kementerian Perdagangan pun sedang mengebut untuk pengerjaan sistem tersebut, dan ditargetkan selesai dalam tiga minggu. Upaya itu merupakan salah satu langkah pemerintah untuk mempermudah ekspor agar pelaku usaha dapat memaksimalkan perjanjian dagang.
âSaya tahu ini kan masalah administrasi, masalah administrasi biar diselesaikan oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perdagangan. Tugas pelaku usaha adalah bagaimana meningkatkan ekspor,â jelas Mendag.
Reformasi administrasi penting untuk dilakukan, lantaran utilisasi perjanjian dagang Indonesia masih berada di angka 60-70 persen, sedangkan perjanjian yang dimiliki sudah berjumlah 20 perjanjian yang berjalan, 10 dalam tahap ratifikasi, dan 16 lainnya dalam proses.
Pasar Menggiurkan
Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Surabaya, Wibisono, mengungkapkan, keringanan tarif bagi pengusaha Indonesia ini menunjukkan Uni Eropa ingin merangkul Indonesia karena melihat potensi besar di masa mendatang yang akan menjadi negara dengan ekonomi maju di kawasan.
âUni Eropa sedang menghadapi tantangan pemulihan ekonomi, karena dampak perang di Ukraina telah membuat negara-negaranya krisis energi,â katanya.
Mereka ingin pulih lebih cepat, salah satu caranya dengan memperkuat hubungan dagang dengan Indonesia yang mereka anggap punya potensi pasar yang menggiurkan, terutama di masa mendatang seiring berbagai upaya yang terus dilakukan pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan. Dengan implementasi menghapus hambatan tarif, ekspor Uni Eropa ke Indonesia dapat meningkat signifikan karena akan tercipta iklim yang sama-sama menguntungkan kedua pihak.
âMereka membiarkan kita tetap ekspor kelapa sawit dan produk pertanian lainnya, sambil membuka jalaninvestasi dan memberikan kepastian untuk sektor-sektor utama mereka di Indonesia,â kata Wibisono.
- pasar global
Redaktur: Diapari S
Penulis: Diapari S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.