PLTS Diharapkan Minimalisisa Subsidi Listrik dalam APBN

Selasa, 23 Sep 2025, 17:12 WIB

JAKARTA-Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, akhir pekan lalu mengatakan salah satu yang tengah dibahas adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) serta pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) lain yang lebih efisien.

“Waktu di Hambalang kemarin, ada diskusi tentang program pengurangan subsidi listrik dengan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Tapi harganya masih agak tinggi. Sekarang sedang dicari teknologi baru supaya harga produksinya mendekati harga murah sekarang, sehingga subsidi bisa mengecil atau hilang,” kata Purbaya.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Pengamat Energi Terbarukan dari Universitas Brawijaya, Malang, Suprapto, mengatakan, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) akan mendukung program efesiensi yang sebelumnya telah dicanangkan Presiden Prabowo Subianto karena langkah itu dapat membantu menekan subsidi listrik sehingga menghemat APBN.

“Pengembangan PLTS tidak hanya mengurangi kebergantungan pada bahan bakar fosil, tapi dengan sinar matahari sebagai sumber energi, juga dapat mengurangi kebergantungan pasar bahan bakar fosil yang harganya berfluktuasi dan ini berdampak ke biaya listrik,” kata Suprapto.

Kalau harga listrik sedang naik otomatis subsidi pemerintah semakin ikut naik. Artinya jika ini bisa ditekan akan membantu menghemat anggaran sesuai efesiensi yang digencarkan Presiden.

Dengan meningkatkan kapasitas pembangkit listrik yang lebih murah dan efisien, PLTS dapat membantu mengurangi beban subsidi listrik yang ditanggung oleh pemerintah. Maka pemerintah dapat dua benefit sekaligus, penghematan dan semakin dekat menuju target net zero emmission,” katanya.

Bauran Energi

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengapresiasi Menkeu yang melihat salah satu solusi untuk menurunkan subsidi adalah dengan mengembangkan energi terbarukan, khususnya PLTS. PLTS jelasnya sangat murah listriknya, di bawah pembangkit energi terbarukan lainnya.

Dengan mengembangkan energi terbarukan (PLTS) dengan skala yang besar-besaran di sistem listrik PLN, akan berdampak pada penurunan biaya pembangkitan tenaga listrik. “IESR menghitung, jika bauran energi terbarukan di sistem listrik PLN mencapai 25 persen, biaya pembangkitan bisa turun ~10 persen, dengan catatan tidak menambah pembangunan pembangkit fossil baru,”sebut Fabby.

Pemerintah jelasnya harus mendorong PLN menambah PLTS lebih besar dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dan pemerintah juga harus meninjau ulang kebijakan kuota PLTS atap yang diberlakukan sejak 2024 lalu.

Sebagai penggantinya, pengguna PLTS atap menggunakan battery energy storage system (BESS), minimal 20 persen dari kapasitas pembangkit, untuk mengurangi dampak dari PLTS atap yang intermitten pada kestabilan jaringan listrik.

Untuk menurunkan subsidi menurut Fabby, tidak cukup hanya dengan energi terbarukan, tetapi perlu ada reformasi tarif dan subsidi. Hari ini sebagai besar pelanggan PLN, khususnya pelanggan rumah tangga 2200 ke bawah menerima subsidi, karena tarif tenaga listrik masih di bawah biaya pokok produksi yang wajar.

  • energi berkelanjutan

Redaktur: Diapari S

Penulis: Diapari S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.