Relevansi Poligami di Era Modern: Jalan Surga atau Luka Batin? Antara Syariat, Nafsu, dan Harga Diri Perempuan

Senin, 22 Sep 2025, 18:00 WIB
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Poligami. Satu kata yang selalu berhasil memicu perdebatan panas di meja makan, forum publik, hingga lini masa media sosial.
Di era modern yang menjunjung tinggi kesetaraan gender dan self-love, pertanyaan pun mengemuka, masih relevankah poligami dijadikan pilihan hidup, atau justru hanya menjadi luka batin yang disamarkan dengan dalih syariat?
Bagi sebagian orang, poligami adalah bagian dari ajaran agama yang disebut tak bisa ditolak. Dalil syariat kerap dijadikan pembenaran bahwa pria berhak menikahi lebih dari satu wanita.
Namun di sisi lain, modernitas menghadirkan perspektif baru, cinta sejati berarti kesetiaan tunggal, bukan berbagi hati dengan banyak pasangan.
Dalam praktiknya, poligami tidak semudah teori. Banyak kisah yang berakhir dengan air mata. Perempuan kerap menjadi pihak yang paling tersakiti.
Bayangkan saja, bagaimana rasanya harus berbagi cinta, perhatian, dan bahkan ekonomi dengan perempuan lain? Apakah itu adil, atau hanya romantisasi penderitaan?
Era modern menuntut pasangan membangun rumah tangga atas dasar kesetaraan, kepercayaan, dan komunikasi sehat.
Poligami sering kali justru menabrak nilai-nilai ini. Di balik senyum yang dipaksakan, sering tersembunyi luka batin, kecemburuan, dan rasa tidak berharga.
Apalagi kini banyak perempuan mandiri yang sadar akan nilai dirinya. Mereka tak lagi rela dicintai "bersama", karena tahu mereka layak dicintai "sepenuhnya".
Namun, bukan berarti poligami sepenuhnya harus ditolak. Bagi sebagian keluarga, poligami bisa berjalan dengan damai jika semua pihak ikhlas dan matang secara emosional.
Tetapi jujur saja, kasus seperti itu jarang sekali terdengar. Lebih banyak kisah yang berujung konflik, perceraian, hingga trauma berkepanjangan.
Pada akhirnya, relevansi poligami di era modern bergantung pada sudut pandang. Apakah poligami benar-benar jalan menuju surga, atau sekadar bentuk ego laki-laki yang tak pernah puas?
Apakah perempuan akan terus diminta menekan luka demi status "istri sah", atau memilih self-love dengan hak penuh atas cintanya sendiri?
Yang pasti, era modern menuntut kejujuran, kesetaraan, dan cinta tanpa luka. Jadi, pertanyaannya kembali kepada kita masing-masing, mau dipeluk penuh, atau rela berbagi hati?
  • Perempuan
  • poligami

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.