Bahaya Makan Seblak Setiap Hari, Benarkah Bisa Bikin Anak Stunting?
Minggu, 07 Sep 2025, 06:00 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Tagline âIndonesia darurat seblakâ sempat viral di media sosial setelah diunggah oleh dr. Mariska Haris melalui akun TikTok-nya.
Dalam video tersebut, ia menceritakan pengalaman menangani seorang pasien wanita yang memiliki kebiasaan ekstrem, hobi makan seblak hampir setiap hari.
Pasien itu datang dengan keluhan nyeri perut hebat dan kehilangan nafsu makan selama seminggu, hingga akhirnya menjadi sorotan publik.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar di masyarakat, apakah konsumsi seblak secara berlebihan bisa berdampak serius pada kesehatan, bahkan sampai memengaruhi tumbuh kembang anak dan memicu stunting?
Kandungan Seblak dan Risikonya
Seblak pada dasarnya adalah makanan berbahan dasar kerupuk yang direbus hingga lembek, kemudian dimasak dengan bumbu pedas, sering kali ditambah telur, ceker, sosis, atau sayuran.
Sekilas, tampak tidak berbahaya. Namun, ada beberapa hal yang patut diwaspadai:
Tinggi Garam dan MSG. Banyak pedagang seblak menggunakan penyedap dalam jumlah besar untuk memperkuat rasa. Konsumsi natrium berlebihan bisa mengganggu fungsi ginjal, memicu hipertensi, dan mengiritasi lambung.
Rendah Gizi Seimbang. Meski bisa ditambahkan topping, porsi utama seblak tetap didominasi karbohidrat sederhana dari kerupuk atau mie.
Sumber protein, vitamin, dan mineral sering kali kurang. Jika dikonsumsi terus-menerus, tubuh bisa kekurangan zat gizi penting.
Sangat Pedas dan Asam. Level kepedasan yang tinggi berisiko menimbulkan masalah pencernaan, mulai dari maag kambuh, peradangan lambung, hingga gangguan buang air besar.
Benarkah Bisa Sebabkan Stunting?
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka panjang. Dampaknya terlihat dari tinggi badan yang lebih pendek dibanding anak seusianya, serta potensi gangguan perkembangan otak.
Makan seblak tidak secara langsung menyebabkan stunting. Namun, pola makan yang tidak seimbang, termasuk kebiasaan mengonsumsi makanan rendah gizi seperti seblak setiap hari dapat memperbesar risiko anak mengalami defisiensi gizi.
Jika anak lebih sering diberi jajanan pedas instan ketimbang makanan bergizi seimbang (nasi, lauk protein, sayur, buah, dan susu), maka kebutuhan gizinya tidak akan tercukupi. Inilah yang dalam jangka panjang dapat berkontribusi pada stunting.
Kasus Nyata Jadi Alarm Sosial
Kasus pasien dr. Mariska menjadi pengingat bahwa makanan yang dianggap âringanâ bisa menimbulkan efek serius bila dikonsumsi tanpa kontrol.
Nyeri perut dan hilangnya nafsu makan yang dialami pasien bukan hanya soal seblak itu sendiri, melainkan pola makan tidak seimbang yang terbentuk karenanya.
Viralnya istilah âIndonesia darurat seblakâ juga menyoroti gaya hidup remaja yang lebih memilih makanan viral dan instan daripada menu rumah bergizi.
Tren ini patut diwaspadai, sebab gizi yang baik seharusnya menjadi prioritas di masa pertumbuhan.
Bijak Menyikapi Tren Kuliner
Seblak tetap bisa dinikmati sebagai camilan sesekali. Kuncinya adalah frekuensi dan porsi. Sesekali makan seblak dengan tambahan sayuran dan topping protein tidak masalah. Namun, menjadikannya makanan pokok harian jelas berbahaya.
Masyarakat, khususnya orang tua, perlu lebih kritis terhadap pola makan anak. Edukasi gizi harus ditanamkan sejak dini agar anak paham bahwa makanan viral belum tentu sehat.
Makan seblak setiap hari memang berisiko bagi kesehatan, terutama bila tidak diimbangi dengan gizi seimbang.
Meski tidak otomatis menyebabkan stunting, pola makan semacam ini bisa memperbesar risikonya. Jadi, seblak sebaiknya dinikmati sebagai jajanan sesekali, bukan sebagai makanan utama.***
- Bahaya Makan Seblak Setiap Hari
Redaktur: Weti Aprianti
Penulis: Weti Aprianti
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.