Desainer Prancis Belajar Batik dan Tenun di Indonesia, Wastra Nusantara Siap Guncang Paris Fashion World!
Selasa, 02 Sep 2025, 09:30 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Indonesia kembali membuktikan dirinya sebagai pusat inspirasi mode dunia. Bukan hanya desainer lokal yang jatuh cinta pada kekayaan wastra Nusantara, tapi kini desainer muda asal Paris pun rela turun langsung belajar membatik di Tegal hingga menenun di Lombok.
Adalah Kozue Sullerot dan Priscille Berthaud, dua desainer muda Prancis yang rela meninggalkan hiruk pikuk Paris demi menyelami tradisi tekstil Indonesia.Â
Kozue tampak serius memegang canting, menggambar motif batik dengan tekun di sebuah rumah batik di Tegal, Jawa Tengah.Â
Sementara itu, di Lombok, Priscille belajar mengoperasikan alat tenun bukan mesin (ATBM) bersama para ibu penenun, mencicipi langsung rumitnya proses melahirkan kain songket khas Nusa Tenggara Barat (NTB).
Keduanya datang ke Indonesia melalui program Pintu Residency, bagian dari Pintu Incubator yang digagas JF3 (Jakarta Fashion & Food Festival) bersama Lakon Indonesia, bekerja sama dengan Kedutaan Besar Prancis melalui IFI (Institut français d'Indonésie).Â
Program ini menjadi wadah pertukaran budaya sekaligus mempertemukan perajin tradisional dengan desainer internasional.
Selama tiga bulan, Kozue dan Priscille ditantang menciptakan koleksi ready-to-wear berbasis wastra Indonesia.Â
Tantangannya bukan main, karya mereka harus bisa diterima di pasar lokal sekaligus pasar global, terutama Prancis.Â
âSaya mencoba memadukan batik dengan ciri khas saya, agar bisa diterima di dua dunia: Indonesia dan Paris,â ujar Kozue optimis saat tampil di JF3 Fashion Festival 2025.
Priscille tak kalah bersemangat. Ia mengaku kagum dengan para penenun Lombok yang mayoritas perempuan.Â
âBagi saya, ini bukan sekadar belajar menenun, tapi juga tentang kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan,â katanya.Â
Ia bahkan membandingkan pengalamannya dengan proses penenunan kasmir di Nepal dan sutra di Maroko.
Para penggagas program ini menegaskan bahwa tujuan besar mereka adalah membawa batik, tenun, dan songket Indonesia agar tidak hanya dipandang âlokalâ, tapi juga diterima sebagai mode global.Â
Thresia Mareta, pendiri Lakon Indonesia, mencontohkan keberhasilan desainer Belgia Dries Van Noten yang dulu mengangkat batik ke Paris Fashion Week.Â
Kini saatnya desainer Prancis muda kembali menghidupkan momen itu.
Puncak perjuangan Kozue dan Priscille akan diuji di Premiere Classe Paris, salah satu trade show mode paling prestisius, akhir September nanti.Â
Di situlah batik dan tenun Indonesia akan diuji di mata buyer dan kritikus mode internasional.
Tak tanggung-tanggung, program ini bahkan mendapat apresiasi dari Presiden Emmanuel Macron.Â
Dalam pidatonya di Borobudur, ia menyebut Pintu Residency sebagai bukti nyata bagaimana budaya, kreativitas, dan pendidikan mampu menyatukan bangsa.
Dengan identitas kuat, kearifan lokal, serta dukungan kolaborasi internasional, wastra Indonesia kini semakin dekat untuk benar-benar mengguncang panggung mode dunia.Â
Dan kali ini, semua mata tertuju ke Paris dengan batik dan tenun Indonesia sebagai bintang utamanya.
- Paris
- batik
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.