Fit and Proper Test Pejabat Publik di DPR Kerap Jadi Ajang Transaksi
Jum'at, 29 Agu 2025, 08:56 WIBJAKARTA- Pengamat Hukum dan Pembangunan, Hardjuno Wiwoho meminta aparat penegak hukum memberi perhatian serius pada titik-titik rawan korupsi di parlemen, terutama dalam proses legislasi dan mekanisme pemilihan pejabat melalui fit and proper test.
âFit and proper test di DPR untuk memilih pejabat publik seperti di BI dan OJK seringkali menjadi ajang transaksi politik,â katanya, Kamis (28/8).
Ia diminta berpendapat terkait pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat memberi arahan kepada Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) yang kembali menegaskan komitmennya membangun pemerintahan bersih dari praktik korupsi.
Menurut Hardjuno, banyak kasus menunjukkan calon pejabat diwajibkan setor agar bisa lolos uji kelayakan. âKalau ini dibiarkan, maka pejabat terpilih bukan karena kapabilitas, tapi karena transaksi di belakang layar,â katanya.
Ia mengatakan kondisi tersebut sangat berbahaya, karena pejabat yang terpilih dengan cara tidak sehat cenderung mengabdi pada kepentingan kelompok tertentu, bukan kepada rakyat.
âDampaknya jelas, kebijakan publik bisa diarahkan untuk melayani sponsor politiknya. Ini yang merugikan negara,â tegasnya.
Hardjuno mencontohkan kasus dugaan penyalahgunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), muncul karena lemahnya pengawasan dalam proses politik dan pemilihan pejabat yang semestinya dilakukan transparan.
Pengawasan ketat katanya harus dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejaksaan, maupun Kepolisian sejak tahap seleksi. âPencegahan jauh lebih murah daripada penindakan. Begitu pejabat yang lahir dari proses cacat sudah berkuasa, membongkar kasusnya jauh lebih sulit,â kata Hardjuno.
Money politic di DPR kata Hardjuno bukan hanya saat memilih pejabat publik, tetapi juga saat proses legislasi yang melahirkan undang-undang yang menentukan arah bangsa. Proses legislasi tersebut jika diwarnai transaksi, maka pasal-pasal yang lahir bisa disusupi kepentingan sempit yang berisiko merugikan negara.
âIni bahaya besar karena undang-undang seharusnya jadi instrumen publik, bukan alat barter politik,â katanya.
Hardjuno pun meminta agar pengawasan tidak berhenti pada penindakan kasus korupsi, tetapi harus diarahkan untuk mencegah potensi penyalahgunaan kewenangan sejak dini.
âKalau DPR dibiarkan tanpa pengawasan ketat, publik akan terus kehilangan kepercayaan pada institusi politik. Padahal kredibilitas parlemen sangat penting untuk menopang legitimasi pemerintahan,â katanya.
Kalau aparat penegak hukum serius mengawasi jalannya pelaksanaan fit and proper test dan pembahasan Undang-Undang di DPR, maka akan memberi sinyal yang kuat ke masyarakat bahwa era Pemerintahan Prabowo benar-benar berbeda.
âKalau titik rawan ini bisa dibersihkan, maka komitmen Presiden untuk pemerintahan bersih bukan hanya slogan, tapi nyata di lapangan,â kata Hardjuno.
Saat memberikan arahan kepada APKASI, Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan komitmennya untuk membangun pemerintahan bersih dari praktik korupsi.
âSaya kadang-kadang ngeri juga dengan ucapan saya. Di MPR tanggal 15 Agustus, ingat pidato saya, âKalau pun ada anggota Gerindra yang melanggar, saya tidak akan lindungi.â Eh, beberapa hari kemudian, ada anggota Gerindra yang tertangkap,â kata Presiden.
KPK sebelumnya telah mengumumkan anggota DPR RI Heri Gunawan dari Fraksi Gerindra dan Satori dari Fraksi Nasdem sebagai tersangka kasus dugaan korupsi penyaluran dana Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
KPK bahkan terus mendalami aliran dana tersebut karena mengalir ke semua anggota Komisi XI DPR periode 2019-2024.
Sangat Rawan
Terpisah, pengamat Kebijakan Publik Fitra, Badiul Hadi mengatakan komitmen politik Presiden memerangi korupsi tidak cukup. Presiden harus meminta aparat penegak hukum KPK, Kejaksaan, dan Kepolisian agar lebih aktif mengawasi ruang-ruang rawan korupsi, termasuk dalam proses legislasi di DPR maupun mekanisme fit and proper test.
Komitmen Presiden harus dibarengi dengan langkah-langkah sistemik, penguatan regulasi, keterlibatan publik dalam pengawasan, serta transparansi penuh dalam setiap proses seleksi pejabat publik.
Sinergi Pemerintah dan penegak hukum serta partisipasi masyarakat sipil katanya, akan menjadi kunci menciptakan ekosistem politik yang lebih sehat dan pemerintahan yang benar benar bersih dari praktik korupsi.
Sementara itu, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda mengatakan pemberian kewenangan legislasi dalam fit and proper test pejabat negara juga sangat rawan terjadi tukar suara. Anggaran Kementerian/Lembaga terkait pun menjadi alat untuk menukar suara agar terpilih jadi pejabat.
âSekarang sudah tidak zaman menggunakan uang pribadi, tetapi mainnya lewat anggaran. Begitu juga dengan proses anggaran K/L yang sekarang terjadi. Proses penganggaran sekarang adalah proses wani piro agar goal anggaran K/L-nya,âungkap Huda.
Dia sepakat agar aparat penegak hukum baik KPK, Kejaksaan maupun Kepolisian untuk aktif mengawasi pelaksanaan fit and proper test pejabat negara.
Dari Jawa Timur, pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam, mengatakan, aparat penegak hukum harus aktif menindaklanjuti pernyataan presiden soal bersih-bersih pemerintahan.
âPresiden Prabowo sadar tanpa pemberantasan korupsi yang serius akan sulit mengejar program-program pemerintah. Ruang gerak anggaran sudah sempit, kalau sampai dikorupsi jelas tujuan pemerintah semakin terhambat,â katanya.
Adapun pertimbangannya menyasar ke DPR, karena korupsi harus dipotong dari pangkalnya yaitu legislator yang bertugas mengawasi jalannya berbagai program.
- pemilihan pejabat
Redaktur: Diapari S
Penulis: Diapari S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.