Rusia Ancam Tembak Kargo Paket Senjata yang Dikirim ke Ukraina
Senin, 25 Agu 2025, 08:43 WIBWASHINGTON-Â Pemerintah Rusia menilai pasokan senjata ke Ukraina yang dilakukan Amerika Serikat (AS) menghambat penyelesaian konflik dan secara langsung menarik negara-negara NATO ke dalam konflik tersebut.
Sebagai tanggapan atas rencana pengiriman paket senjata senilai 850 juta dolar AS, termasuk 3.350 rudal serang jarak jauh (ERAM) tersebut, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menegaskan bahwa setiap kargo berisi senjata ke Ukraina akan menjadi target yang sah bagi Rusia.
Pemerintah Rusia juga menyatakan bahwa langkah Barat yang terus memasok senjata ke Ukraina tidak membantu proses negosiasi dan justru akan membawa dampak negatif.
Sebelumnya Wall Street Journal (WSJ) melaporkan nahwa Presiden AS Donald Trump pekan ini menyetujui penjualan 3.350 rudal serang jarak jauh (ERAM) ke Ukraina. Pengiriman rudal itu dikabarkanakan dilakukan dalam enam pekan mendatang.
WSJ menyebutkan bahwa total paket senjata itu bernilai 850 juta dolar AS (sekitar Rp13,79 triliun) dan mencakup peralatan lain, yang sebagian besar biayanya ditanggung oleh sekutu Ukraina di Eropa, sebagaimana dikutip dari dua pejabat AS.
Disebutkan pula, persetujuan itu keluar setelah Trump melakukan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska dan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Washington baru-baru ini.
Rudal ERAM memiliki jangkauan 241 hingga 450 kilometer dan penggunaannya tetap memerlukan persetujuan dari Pentagon (Departemen Pertahanan AS), sebut WSJ.
AS memang belum merencanakan pasokan rudal tambahan, tetapi senjata lain yang dibeli negara-negara Eropa dari AS, seperti sistem pertahanan udara dan GMLRS (Guided Multiple Launch Rocket System) dengan jangkauan 145 km, bisa membantu Ukraina.
Harus Izin AS
Dalam laporannya, The Kyiv Independent menyatakan AS diam-diam menerapkan proses peninjauan yang memberi wewenang kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk melarang serangan jarak jauh Ukraina di wilayah Rusia dengan rudal Amerika, yang secara efektif memblokir serangan selama berbulan-bulan.
Hal tersebut juga dilaporkan WSJ pada Sabtu. Adapun, proses persetujuan tingkat tinggi Departemen Pertahanan atau Pentagon yang tidak diumumkan telah mencegah penggunaan Sistem Rudal Taktis Angkatan Darat (ATACMS) terhadap target di dalam Rusia sejak akhir musim semi.
Seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya mengatakan mekanisme peninjauan itu dikembangkan oleh Wakil Menteri Kebijakan Pentagon, Elbridge Colby dan mengawasi penggunaan senjata buatan Amerika dan senjata Eropa oleh Ukraina, yang bergantung pada intelijen dan komponen AS, lapor WSJ.
Selain proses peninjauan untuk serangan rudal, sistem pemeringkatan dilaporkan telah diterapkan untuk menilai apakah AS memiliki cukup stok senjata tertentu. Kategori merah, kuning, dan hijau diperkenalkan oleh Colby untuk membantu memutuskan senjata apa yang boleh dipasok ke Ukraina.
Proses peninjauan baru itu berlaku untuk rudal jarak jauh Storm Shadow milik Inggris karena ketergantungannya pada data penargetan AS, ungkap seorang pejabat Inggris dan dua pejabat AS.
Setidaknya pada satu kesempatan, Ukraina telah berencana menggunakan ATACMS terhadap target di wilayah Rusia tetapi ditolak persetujuannya, ungkap dua pejabat AS.
Ukraina terakhir kali menerima pengiriman ATACMS yang disahkan oleh pemerintahan Gedung Putih sebelumnya pada musim semi, ungkap pejabat AS yang tidak disebutkan namanya kepada WSJ.
Terlepas dari pernyataan Trump baru-baru ini bahwa Ukraina tidak dapat memenangkan perang melawan Rusia tanpa melawan balik, para pejabat AS mengatakan pernyataan Trump tidak menandakan perubahan kebijakan. Trump mungkin berubah pikiran dan mengizinkan perluasan operasi ofensif terhadap Rusia, kata seorang pejabat senior Gedung Putih kepada WSJ.
- perang Rusia-Ukraina
Redaktur: Diapari S
Penulis: Diapari S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.