Hutan Tropis Indonesia Berpotensi Besar Serap Emisi Karbon         

Senin, 25 Agu 2025, 09:05 WIB

JAKARTA - Ketua Ikatan Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (IALHI DIY), Andi Sungkowo, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar sebagai penyerap emisi karbon berkat hutan tropis yang luas, namun di sisi lain juga menghadapi tantangan serius berupa tingginya produksi emisi dari industri, energi fosil, dan transportasi.

“Posisi Indonesia unik, karena punya kekuatan ekologis, tapi juga dilemahkan oleh ketergantungan energi fosil. Maka yang diperlukan bukan hanya regulasi yang konsisten, tapi juga implementasi di lapangan dengan semangat sinergi lintas sektor,” katanya saat dihibungi di Yogyakarta, Minggu (24/8) menanggapi pernyataan Penasihat Presiden Bidang Energi, Purnomo Yusgiantoro.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Ia menilai pernyataan Purnomo Yusgiantoro menegaskan bahwa transisi energi tidak bisa hanya ditopang pemerintah, tetapi harus melibatkan perguruan tinggi, masyarakat sipil, sektor swasta, dan komunitas lokal.

Dia juga menekankan bahwa transisi energi harus dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek keadilan sosial. “Ekonomi hijau jangan hanya menjadi jargon, tapi harus nyata memberi manfaat bagi masyarakat, termasuk petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil yang terdampak perubahan iklim maupun kebijakan energi,” pungkas Andi.

Target Pemerintah menuju transisi energi baru dan terbarukan (EBT) dan ekonomi hijau hanya dapat tercapai melalui kolaborasi. Penasihat Presiden Bidang Energi, Purnomo Yusgiantoro, mengatakan dengan bersinergi, semua yang ditargetkan dalam transisi energi dan ekonomi hijau dapat tercapai.

Purnomo dalam acara PYC International Energy Conference 2025 di Jakarta, akhir pekan lalu mengatakan Indonesia merupakan salah satu penyumbang besar untuk mengurangi emisi karbon dunia lewat hutan yang sangat luas, tapi di sisi lain juga diperhadapkan dengan produksi emisi karbon yang tinggi.

Pemerintah, jelas Purnomo, mendorong pengembangan EBT untuk meningkatkan penggunaan energi bersih, sekaligus mewujudkan ketahanan energi.

Purnomo yang juga pendiri PYC, menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen mengembangkan berbagai sumber EBT seperti biofuel, energi surya, energi angin, hingga pengembangan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

“Kami yakin jika kita bersama-sama bersinergi, maka bukan hanya transisi energi yang dapat kita wujudkan, tetapi suatu saat Indonesia bisa menjadi negara yang memiliki ketahanan energi, bahkan menjadi penyuplai energi bersih,” kata Purnomo.

Sementara itu, Ketua Umum PYC Filda Citra Yusgiantoro menyampaikan Indonesia wajib menjaga keseimbangan tiga pilar utama yaitu ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

“Tiga pilar utama itu menjadi faktor penting dan kunci dalam menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045,” kata Filda.

Dia menegaskan, melalui forum PYC International Energy Conference, pihaknya juga menyoroti tentang pembiayaan berkelanjutan untuk mendukung ketiga pilar tersebut.

  • energi berkelanjutan

Redaktur: Diapari S

Penulis: Diapari S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.