Prabowo: Pengusaha Serakah Penyebab Anomali Harga Pangan
Selasa, 19 Agu 2025, 09:30 WIBJAKARTA- Presiden Indonesia Prabowo Subianto dalam sidang tahunan DPR/MPR, Jumat (15/8), menyatakan fenomena seperti manipulasi kerap terjadi karena keserakahan aktor ekonomi atau âSerakahnomicsâ yang memicu distorsi dalam system ekonomi nasional seperti penyimpangan dan manipulasi oleh oknum kelompok-kelompok yang serakah, menjadi penyebab terjadinya fenomena yang anomali.
Presiden sangat heran dengan fenomena anomali seperti kelangkaan minyak goreng yang sempat melanda tanah air beberapa waktu lalu, padahal Indonesia tercatat sebagai negara produsen kelapa sawit terbesar dunia.
âSungguh aneh negara dengan produksi kelapa sawit terbesar di dunia pernah mengalami kelangkaan minyak goreng. Aneh sekali, tidak masuk di akal sehat, dan ternyata ada permainan manipulasi yang saya beri nama Serakahnomics,â kata Prabowo.
Sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia, Indonesia tegas Presiden tidak seharusnya mengalami kelangkaan berbulan-bulan. Kepala Negara dalam pidatonya juga menyoroti harga pangan yang masih tinggi meskipun negara telah memberi subsidi pupuk, alat pertanian, hingga pembangunan waduk.
âKeanehan-keanehan ini terjadi karena ada distorsi dalam sistem ekonomi kita, ada penyimpangan. Padahal UUD 1945 terutama pasal 33 ayat 1, 2, dan 3 adalah benteng pertahanan ekonomi kita,â kata Presiden.
Wakil Rektor Tiga, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam yang diminya pendapatnya mengatakan, meskipun kelangkaan minyak goreng disebabkan beberapa faktor yang berkaitan, namun masalah distribusi dan dugaan praktik kartel sebagai penyebab yang lebih dominan, sehingga patut menjadi perhatian.
âFaktor-faktor seperti kenaikan harga CPO memang membuat produsen lebih tertarik menjual komoditas mereka ke luar negeri, atau kebijakan B30 yang membuat sebagian produksi minyak nabati dialihkan untuk biodiesel. Namun saya kira problem klasik yang sering terjadi dalam instabilitas harga tetap pada persoalan distribusi dan logistik,â kata Surokim.
Sebagai negara kepulauan menghadapi tantangan dalam distribusi secara merata dan tepat waktu, diakui memang bisa sebagai penyebab kelangkaan di beberapa daerah. Kendati demikian, patut dicermati pula dugaan adanya praktik kartel, spekulan, dan aksi penimbunan yang memperuh harga. âAparat harus menindaklanjuti kemungkinan-kemungkinan ini,â katanya.
Tata Kelola Timpang
Sementara itu, Deputi Bidang Pemantauan Indonesia Human Rights Committee for Social Justice (IHCS), Lalu Ahmad Laduni, menilai kelangkaan minyak goreng terjadi karena tata kelola yang timpang.
âAda dominasi segelintir perusahaan besar yang menguasai industri sawit dari hulu sampai hilir. Saat harga CPO di pasar global melonjak, mereka lebih memilih ekspor dibanding memenuhi kebutuhan domestik,â kata Laduni di Jakarta, Senin (18/8).
Selain itu, kata Laduni, distribusi minyak goreng dalam negeri seringkali diganggu oleh praktik spekulan. âAda pihak yang menahan barang untuk menunggu harga naik. Akibatnya masyarakat dikorbankan oleh permainan pasar,â katanya.
Laduni juga menyoroti kontradiksi kebijakan subsidi pemerintah. âNegara sudah mengucurkan subsidi untuk pupuk, alat pertanian, bahkan pembangunan infrastruktur pertanian. Tapi nyatanya harga pangan tetap tinggi dan tidak terjangkau. Artinya ada yang salah dalam rantai distribusi, keuntungan tidak jatuh ke tangan petani atau konsumen, melainkan terpusat di kelompok konglomerat,â tegasnya.
Salah satu jalan keluar adalah memperkuat koperasi rakyat yang selama ini kurang mendapat dukungan negara. Koperasi rakyat tambahnya harus jadi bagian dari solusi jangka panjang, bukan hanya mengandalkan kebijakan larangan ekspor atau operasi pasar.
- kelangkaan pangan
Redaktur: Diapari S
Penulis: Diapari S
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.