Busana yang diperagakan memadukan kain jumputan khas Palembang dengan bahan denim, menghasilkan tampilan unik yang menggabungkan kekayaan budaya lokal dengan sentuhan modern.
Penampilan ini berhasil memikat penonton, yang tak ragu memberikan tepuk tangan meriah dan pujian sepanjang jalannya parade.
Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang, Desi Andriyani, mengatakan bahwa ajang ini menjadi kesempatan emas untuk membuktikan bahwa kreativitas para warga binaan tidak kalah dengan desainer profesional di luar sana.
âDengan kegiatan fashion show ini, kami ingin menunjukkan bahwa karya warga binaan Lapas Perempuan Palembang mampu bersaing dengan produk lainnya. Keterbatasan di dalam Lapas tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus berkarya,â ujarnya.
Demi memastikan keamanan dan kelancaran kegiatan, seluruh warga binaan yang terlibat telah melalui seleksi ketat sesuai SOP. Mereka juga menggunakan Alat Pengawas Elektronik (APE) di pergelangan kaki untuk memantau posisi selama acara berlangsung, sehingga kegiatan dapat berjalan aman dan tertib.
Sriwijaya Expo merupakan agenda tahunan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan yang menjadi wadah promosi berbagai potensi daerah, mulai dari kerajinan tangan, kuliner, hingga pertunjukan seni.
Keikutsertaan Lapas Perempuan Palembang dalam event ini tidak hanya mempromosikan produk karya warga binaan, tetapi juga mendukung program pembinaan keterampilan, kemandirian, dan reintegrasi sosial agar mereka lebih siap kembali ke masyarakat setelah masa hukuman selesai.
Menariknya, busana jumputan yang ditampilkan tidak sekadar untuk pameran, tetapi juga telah dipasarkan secara terbatas kepada masyarakat. Proses pembuatannya dilakukan di workshop Lapas, dimulai dari tahap pewarnaan kain, pola, penjahitan, hingga finishing. Bahkan, beberapa pembeli mengaku terkesan dengan kualitas dan kerapian produk tersebut.
Selain fashion show, stan Lapas Perempuan Palembang di Sriwijaya Expo juga memamerkan berbagai produk lain buatan warga binaan, seperti tas, dompet, hingga aksesoris, yang semuanya dibuat dengan bahan ramah lingkungan.
Langkah ini menjadi salah satu bentuk nyata pemberdayaan warga binaan untuk memiliki keterampilan yang dapat dijadikan modal usaha mandiri setelah bebas nanti.