Bukan Sekadar Manga, Ini Alasan Mengapa One Piece Jadi Simbol Protes Kreatif di Perayaan HUT RI ke-80

Selasa, 05 Agu 2025, 05:00 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, jagat maya dibuat heboh oleh sebuah pemandangan tak biasa di mana bendera bajak laut dari anime One Piece berkibar berdampingan dengan Sang Saka Merah Putih. Fenomena ini memicu berbagai reaksi publik mulai dari pujian karena dianggap kreatif dan bermakna, hingga kritik karena dinilai kurang pantas.

Aksi ini berawal dari imbauan Presiden Prabowo Subianto yang mengajak masyarakat mengibarkan bendera nasional sepanjang bulan Agustus. Namun, di berbagai daerah dan media sosial, muncul inisiatif warga yang menambahkan bendera Jolly Roger jadi simbol bajak laut Topi Jerami dalam anime One Piece di bawah atau di samping bendera merah putih.

Ket. Foto: Menjelang HUT RI ke-80, Bendera One Piece Berkibar Bersama Merah Putih: Ekspresi Budaya Pop atau Bentuk Kritik Sosial? — Sumber: Istimewa

One Piece: Manga Legendaris dan Simbol Kebebasan

Untuk memahami makna di balik aksi ini, kita perlu menilik cerita One Piece, manga Jepang karya Eiichiro Oda yang pertama kali terbit pada 1997. Kisah ini mengikuti Monkey D. Luffy, seorang anak muda dengan tubuh elastis akibat memakan Buah Iblis, yang berlayar keliling dunia bersama kru bajak laut Topi Jerami untuk mencari harta karun legendaris bernama One Piece.

Namun, One Piece bukan sekadar cerita perburuan harta. Ia berkembang menjadi simbol impian, kebebasan, solidaritas, dan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Luffy dan krunya sering kali melawan tirani, membantu kaum tertindas, dan menjaga prinsip keadilan mereka sendiri, pesan-pesan yang resonan di tengah kondisi sosial-politik Indonesia saat ini.

Bendera One Piece: Simbol Kritik Sosial atau Sekadar Kreativitas?

Pengibaran bendera bajak laut One Piece oleh sebagian masyarakat bukan dianggap sekadar “gaya-gayaan” atau tren. Bagi sebagian generasi muda, bendera itu adalah simbol perlawanan terhadap ketimpangan sosial, ekspresi kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah, sekaligus bentuk solidaritas sesama “rakyat kecil.”

Di dunia One Piece, simbol tengkorak dan tulang bersilang bukan semata lambang ancaman. Justru sebaliknya, ia mewakili loyalitas, persaudaraan, dan semangat kebebasan yang dipegang teguh oleh para kru Topi Jerami. Ini yang membuat banyak orang merasa terhubung secara emosional dan ideologis dengan simbol tersebut.

Pro dan Kontra: Di Antara Kreativitas dan Kekhawatiran

Tentu saja, aksi ini tidak lepas dari kontroversi. Beberapa pihak termasuk tokoh masyarakat dan pejabat negara mengungkapkan kekhawatiran bahwa pengibaran bendera non-resmi di momen kenegaraan bisa menimbulkan salah tafsir dan gangguan terhadap simbol persatuan nasional.

Namun, menurut sebagian besar anak muda yang terlibat, aksi ini bukan bentuk penolakan terhadap negara, melainkan cara kreatif menyuarakan aspirasi.

Di tengah era digital dan budaya pop yang meresap ke segala lini, manga seperti One Piece kini bukan hanya hiburan, tetapi medium komunikasi sosial yang kuat.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana budaya pop bisa menjadi bagian dari narasi kebangsaan, bahkan menjadi alat untuk menyuarakan keresahan dan harapan.

Bendera One Piece yang berkibar di tengah perayaan kemerdekaan bukan hanya soal karakter fiksi, tetapi juga refleksi dari semangat perlawanan, mimpi besar, dan solidaritas lintas generasi.

Apa yang terjadi di lautan Grand Line dalam manga One Piece ternyata tak sepenuhnya berbeda dari yang dirasakan banyak anak muda Indonesia hari ini: semangat untuk memperjuangkan dunia yang lebih adil dan bebas, dengan cara dan simbol yang mereka pilih sendiri.

  • HUT RI 80
  • Bendera One Piece

Redaktur: Fitrya A Kusumah

Penulis: Fitrya A Kusumah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.