Musisi Wajib Panik! Lagu Buatan AI Terus Viral, Ancaman Baru untuk Industri Musik?

Kamis, 31 Jul 2025, 11:15 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Bayangkan, kamu mendengar lagu yang suaranya identik dengan Ariana Grande atau Drake, lengkap dengan emosi, nada khas, dan beat profesional. Bahkan, lagu dengan tema jaman dahulu pun kembali diangkat dengan buatan AI.

Tapi tunggu dulu, ternyata lagu itu tak pernah direkam mereka! Itulah realita mengejutkan saat ini, musik buatan AI merajalela, dan dunia tak siap menahannya.

Ket. Foto: — Sumber: Freepik

Fenomena ini meledak lewat platform seperti TikTok dan YouTube, yang mana lagu-lagu hasil kreasi kecerdasan buatan diputar jutaan kali. Beberapa bahkan dikira rilisan resmi, padahal sepenuhnya dibuat oleh program komputer. 

Lagu seperti Heart on My Sleeve sempat viral karena memakai suara AI Drake dan AI The Weeknd yang nyaris tak bisa dibedakan dari aslinya.

Bahkan kanal YouTube Miss Wening pun mengangkat lagu buatan AI yang mengusung tema jaman dulu, yang membuat kita bernostalgila lagu pop jazz era 1970an. Video tersebut saat ini bahkan sudah ditonton sebanyak 16.000 penonton!

Dengan berkembangnya teknologi seperti Text to Speech (TTS) dari ElevenLabs dan generator musik instan seperti SUNO, menciptakan lagu viral kini dilakukan siapa saja, bahkan tanpa studio, label, atau pelatihan vokal. Cukup masukkan data dan klik beberapa tombol, lahirlah lagu yang siap trending di industri musik.

Jadi, apa yang membuat lagu-lagu AI ini begitu menarik? Jawabannya ada di novelty effect atau efek kejut dan penasaran karena teknologi mampu menghidupkan kembali suara artis atau menciptakan kombinasi mustahil. 

Suara Eminem menyanyikan lagu Taylor Swift? Suara BTS menyanyikan lagu dangdut? Atau bahkan suara anggota BLACKPINK dengan lagu baru, semua bisa diwujudkan dalam hitungan menit.

Namun di balik keajaiban teknologi ini, ada bahaya besar yang mengancam ekosistem musik. Hak cipta jadi pertaruhan utama. Musisi kehilangan kontrol atas suara dan gaya khas mereka yang bisa ditiru siapa pun tanpa izin. Platform streaming pun kelabakan, mana lagu asli, mana palsu buatan AI?

Selain itu, banjir lagu instan ini bisa menurunkan standar kualitas musik, membuat karya musisi manusia tenggelam di lautan konten cepat saji. 
Lebih mengerikan lagi, banyak pendengar mulai kebal terhadap kualitas emosional, karena lebih mementingkan sensasi dan viralitas.

Menurut teori disruptive innovation ala Clayton Christensen, teknologi seperti AI memang hadir untuk mengguncang pasar lama. Kini, kreator konten iseng bisa menandingi musisi profesional. Tapi jika tak segera diatur, dunia bisa kehilangan esensi musik: jiwa dan keaslian.

Solusinya? Industri musik harus bergerak cepat. Mulai dari penggunaan watermark audio, regulasi hak cipta khusus AI, hingga edukasi publik tentang etika penggunaan teknologi. Musisi pun sebaiknya melihat AI sebagai alat bantu kolaboratif, bukan ancaman mutlak.

Karena pada akhirnya, AI hanyalah alat. Yang membuat musik hidup tetaplah emosi, cerita, dan sentuhan manusia. Dunia musik bisa tetap maju, asalkan ada keseimbangan antara kecanggihan mesin dan kepekaan jiwa manusia. 

Jangan sampai musik berubah jadi sekadar algoritma tanpa rasa.

  • AI
  • lagu ai

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.